Dikerumuni Semut Merah

|Gunawan|

Salah satu hal yang tidak saya sukai adalah saat digigit semut merah. Sakitnya bukan main. Apalagi ketika gerombolan semut itu menyasar hingga ke badan dan anggota tubuh lain yang sensitif. 

Perihnya sungguh terasa. Ibarat dikhianati oleh sang kekasih. Atau ditinggal nikah oleh seseorang. Sungguh, teramat perih. Sakitnya terasa sampai ke ulu hati. Untungnya, air mata tak sampai meleleh dan membasahi pipi. 

Dok. Pribadi: Pohon Jati di So Rora

Tadi, ketika sedang berada di bawah pohon nangka, tak sengaja saya menginjak sekumpulan semut merah. Seketika sekawanan semut itu mengerumuni kaki saya. Ada yang sampai ke badan. Secara refleks saya menghindar dari serangan sehimpunan semut tersebut. 

Bayangkan, ini saya menginjakkannya secara tidak sengaja. Namun, marahnya semut-semut itu bukan main. Bagaimana jadinya kalau saya menginjaknya dengan sengaja? Mungkin marahnya akan lebih parah lagi. Bahkan, andaikata badannya besar, barangkali saya akan dibanting olehnya. Atau mungkin, sekumpulan semut itu akan menunggu saya di suatu tempat, untuk kemudian diajaknya berkelahi.

Bukan kali ini saja saya digigit oleh sekawanan semut merah. Di lain kesempatan, ketika sedang asyik istirahat di bawah pohon jati, saya juga pernah dikerumuni oleh semut merah. Padahal, badan atau tubuh saya nggak manis-manis amat. Biasa saja. Tapi, entah mengapa, semut-semut merah acap kali mengerumuni saya. Mungkin mereka ingin curhat dengan saya. Atau, barangkali ingin mendengar curhatan saya. Atau, bisa jadi ingin mengejek saya dan ingin bilang, "Sabar, Mblo. Hidup harus tetap dijalani sepenuh hati, walau hanya berteman bayangan sendiri." []

Wallahu a'lam. 

So Rora, 14/11

Komentar