Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2023

Masa Lalu dan Orang Baru

Gambar
|Gunawan| Masa lalu memang seperti benalu. Selalu melekat di hati dan menjadi kenangan.  Entah itu tentang canda tawa.  Juga perihal kesedihan dan air mata.  Apa pun itu, belajarlah untuk menerima.  Bahwa yang semula datang, akan tiba waktu dia pergi.  Entah itu pergi dengan cara baik-baik maupun pergi dengan meninggalkan noda dan luka di hati.  Dok. Pribadi: Suatu sore di So Rora Belajarlah untuk menumbuhkan rindu pada orang baru.  Meski bukan dengan orang yang kau damba.  Jangan siksa dirimu dengan tumpahan air mata yang tak pernah henti.  Kau juga berhak menikmati bahagia. Wallahu a'lam.  Lereng Lareda, 1/3

Catatan Sore Dua Puluh Tujuh Maret

Gambar
|Gunawan| Saya baru saja memetik daun kelor. Buat sayur berbuka puasa. Sebelumnya sudah ada daun pare yang diambil. Ada juga daun karinggo (saya tidak tahu apa bahasa Indonesianya). Ketiga jenis sayuran ini nantinya akan direbus bersamaan, pakai kayu bakar. Sebuah kombinasi sayuran yang saya sukai, salah satunya.  Di ladang memang tak sulit menemukan sayuran. Berbagai jenis sayuran yang tumbuh liar sangat mudah didapat. Tidak dibayar, alias gratis. Ini adalah hal yang biasa bagi kami yang tinggal di pelosok desa. Mungkin bagi sebagian orang yang bermukim di kota, tidak begitu mudah mendapatkan berbagai jenis sayuran semacam ini. Mungkin juga semuanya serba dibeli.  Dok. Pribadi: Daun kelor, pare, dan karinggo Beberapa saat kemudian, usai mengambil daun kelor, tiba-tiba hujan datang menyapa. Disertai angin kencang pula. Saya agak khawatir. Khawatir karena hujan disertai angin kencang. Saya takut jagung yang sudah kering dan dimasukkan ke dalam karung kembali basah.  Saya s...

Saat Dia Pergi

Gambar
|Gunawan| Bagaimanapun juga kepergian selalu meninggalkan luka di hati.  Siapa pun ia.  Apalagi seseorang yang pernah mengisi hari-harimu penuh ceria.  Sedikit banyak akan ada luka yang ditinggalkan di hati.  Saat seseorang yang amat kau sayangi pergi, kau akan merasa kehilangan sekali.  Hari-harimu tiba-tiba berlinang air mata. Kau begitu terluka.  Bahkan, kau akan memarahi dirimu sendiri, menyesali atas apa yang kau lakukan kepadanya.  Dok. Pribadi: Salah satu quotes saya di IG Saat itu, kau hanya ingin ada dia di sampingmu.  Menemani hari-harimu seperti biasanya.  Bahkan, jikapun ia yang salah, kau akan memaafkannya.  Tapi, itu sudah terlambat.  Karena, dia telah pergi, dan tak akan mungkin bisa kembali lagi.  Tidak apa-apa.  Nikmati saja.  Apa pun itu, hidup harus dijalani.  Bahwa luka yang ditinggalkan itu, cepat atau lambat akan sirna juga.  Sekarang tugasmu hanya perlu memaafkan dirimu sendiri. Lalu, ...

Di Suatu Malam Sunyi

Gambar
|Gunawan| Ia kembali dengan senyum ramah. Setelah sekian lama hilang kabar. Setelah sekian lama entah ke mana.  Dia mencoba menyapa saya. Saya juga membalas sapaannya sewajarnya saja. Dia bercerita panjang lebar. Tak ada yang begitu istimewa. Biasa saja. Hal yang umum orang cerita. Dok. Pribadi: Suatu malam di suatu tempat Entah apa yang membuatnya kembali. Saya tidak sempat bertanya. Dan, saya tak ingin tahu juga. Karena, saya anggap dia telah usai dalam cerita saya. Saya tak ingin mengungkit kembali tentang apa yang pernah terjadi. Yang lalu telah berlalu. Dan, itu cukup dijadikan kenangan saja.  Kehidupan harus tetap dijalani, apa pun yang terjadi. Meski awalnya sulit dipahami, namun akhirnya juga mampu dilewati. Dan kini, sedang menikmati hidup dengan lapang dada. Tak ada yang perlu disesali.  Perihal dia yang kini kembali hadir menyapa penuh ramah, rupanya hanya sebatas bunga tidur saya semata di sepertiga malam terakhir. Ternyata, hanya mimpi belaka. Meskipun begitu...

Tentang Hujan dan Kamu

Gambar
|Gunawan| Dan terjadi lagi.  Rintik-rintik hujan terus hadir tanpa henti.  Hadir menyapa bumi.  Dari pagi hingga pagi lagi. Air bah tak terkendali.  Orang-orang mulai gelisah, mengumpat sana-sini. Tuhan pun dimarahi seenak hati.  Padahal dulu hujan terus dinanti.  Dan terjadi lagi.  Kamu yang dulu berjanji sehidup semati.  Kini, tiba-tiba pergi dan tak ingin bersama lagi.  Dok. Pribadi: Saat hujan di Bumi Pajo Dan terjadi lagi.  Kamu yang dulu mencintai sepenuh hati.  Kini, menyimpan benci yang membuncah di hati.  Dan terjadi lagi.  Kamu yang dulu begitu peduli.  Kini, menyimpan dendam dan tak lagi peduli.  Wallahu a'lam.  Lereng Lareda, 26/2

Menulis Sebanyak Mungkin

Gambar
|Gunawan| Ada banyak orang yang ingin bisa menulis. Ada banyak pula orang yang ingin punya buku karya sendiri. Hal semacam ini tentu saja merupakan sesuatu yang menggembirakan. Paling tidak, sudah punya keinginan dalam diri. Hanya saja, untuk mencapai di titik itu, tidak berhenti sampai di situ. Seperti yang sering kali saya ungkapkan lewat tulisan yang lain, bahwa menulis itu titik tekannya ada pada praktik itu sendiri.  Memahami teori, perlu, bahkan amat perlu. Ikut kursus atau berbagai seminar menulis, misalnya, itu juga merupakan hal yang bagus. Namun, apakah cukup dengan itu saja? Tentu saja, tidak. Tanpa ada praktik menulis, tidak mungkin seseorang bisa menulis.  Dok. Pribadi: Salah satu quotes saya di IG Menulis juga harus sesering mungkin. Harus dilakukan sebanyak mungkin. Semakin sering atau semakin banyak menulis, itu semakin bagus. Menulis hanya sekali saja tidak akan sama hasilnya dengan menulis yang dilakukan banyak kali atau sesering mungkin.  Menulis sebany...

Tentang Apa yang Kutulis Selama Ini

Gambar
|Gunawan| Tentang apa yang aku tulis selama ini, tidak semuanya tentang kamu. Ada banyak hal yang kulalui.  Kamu hanyalah bagian cerita yang terukir dalam hidup ini.  Dan itu akan menjadi kenangan yang tentu saja penuh arti.  Dok. Pribadi: Salah satu quotes saya di IG Bahwa apa yang kutulis sampai kini, tidak sedikit bersumber dari orang-orang yang pernah kutemui.  Tentang patah hati.  Tentang kesedihan.  Tentang air mata duka.  Tentang ketidakbahagiaan. Juga perihal canda rawa.  Perihal senyum ceria.  Perihal kebahagiaan.  Semua itu kutulis atas permintaan mereka.  Semuanya itu menjadi lautan kata atas persetujuan mereka.  Mereka senang karena kepingan ceritanya menjadi untaian kata.  Dan mereka merasa senang pula ketika membacanya kata demi kata.  Wallahu a'lam.  Lereng Lareda, 26/2

Hujan, Halilintar, dan Sahur Perdana

Gambar
|Gunawan| Saya sedang memotong kayu bakar. Kayu jati. Sembari menunggu Magrib tiba. Cuaca tidak terlalu dingin. Juga tidak panas. Angin sepoi turut menghampiri.  Saya perhatikan, Rabu sore, 22 Maret 2023, di wilayah Dompu tampak ada beberapa titik hujan. Hujan terus mengguyur hingga langit tak lagi tampak biru. Tak disangka, titik hujan di Dompu tersebut tak lama kemudian menyebar ke mana-mana. Termasuk sampai juga di tempat saya. Mengguyur, membasahi area di sekitar ladang.  Dok. Pribadi: Sebelum hujan mengguyur So Rora Tanah yang semula tak berair, tiba-tiba tergenang air. Banjir pun perlahan mengisi parit. Jagung yang dijemur di hari pertama yang baru terkena sinar matahari, basah seketika. Tanah tempat menjemur jagung juga tergenangi air.  Tak bisa berbuat banyak. Hanya bisa menyaksikan hujan yang turun yang kian deras. Di tengah derasnya hujan, gemuruh halilintar turut menyapa bumi. Kilatannya tampak jelas beberapa kali. Hingga malam pun tiba, mata petir masih saja t...

Perihal Kamu

Gambar
|Gunawan| Ada banyak hal yang masih sulit kupahami hingga kini.  Dan entah sampai kapan ini akan terjadi.  Tentang kamu yang hadir, lalu tiba-tiba pergi.  Tentang kamu yang pernah mencintai, lalu tiba-tiba membenci.  Dok. Pribadi: Suatu malam di bawah langit BP Aku terus belajar dari apa yang telah terjadi.  Berusaha memahami.  Termasuk perihal kesalahpahaman yang mungkin saja pernah kita alami.  Namun, tetap saja terulang kembali.  Dan kamu masih sulit kupahami.  Wallahu a'lam.  Lereng Lareda, 26/2

Ketika Bel Pulang Berbunyi

Gambar
|Gunawan| Dari jauh terdengar suara seorang guru yang sedang mengajar di ruang kelas. Suaranya berapi-api. Begitu bersemangat.  Anak-anak tak ada yang berani berisik atau bersuara. Mereka akan bersuara bila ditanya oleh sang guru. Itu pun hanya satu dua orang saja yang berani berbicara.  Sangat berbeda ketika belum ada guru yang masuk mengajar di ruang kelas. Mereka begitu berisik. Memukul meja dan kursi. Ada yang teriak. Ada yang menjaili temannya. Ada yang bergembira ria dan tertawa. Ada yang bernyanyi. Pokoknya, semua aktif bersuara.  Sumber gambar: siap-sekolah.com Tiba-tiba, bunyi bel terdengar nyaring. Suasana berubah seketika. Mereka mulai bersorak-sorai. Bergembira ria. Pertanda, mereka akan pulang.  "Hore, akhirnya kita pulang juga," teriak salah seorang siswa. Yang lainnya begitu cepat merapikan buku dan pulpennya ke dalam tas. Lalu, satu per satu mereka ke luar ruangan dan menuju rumahnya masing-masing.  Itulah yang terjadi setiap jam sekolah. Di ling...

Acuh dan Rindu

Gambar
|Gunawan| Ada sesuatu yang aneh dalam hubungan ini. Mungkin hanya kita yang merasakannya.  Di saat dekat, tak jarang kita saling acuh.  Namun, tatkala berjauhan, selalu memunculkan rindu.  Dan rindu itu kian terasa ketika lama tak berkabar.  Dok. Pribadi: Salah satu quotes saya di IG Mungkin kita memang ditakdirkan untuk tak saling dekat.  Agar tak lagi saling menyalahkan.  Agar tak ada lagi kata acuh.  Agar terus memunculkan rindu.  Biarkan saja rindu ini terus merasuki diri, agar ke depan, dengan siapa pun kita bersama, kita bisa belajar untuk saling menghargai dan tak saling acuh.  Wallahu a'lam.  Lereng Lareda, 17/2

Bukan Persinggahan

Gambar
|Gunawan| Aku bukanlah persinggahan.  Yang dengan seenaknya saja engkau hanya mampir sesaat.  Dan dengan sengaja pula engkau meninggalkan luka.  Aku bukanlah persinggahan.  Yang dengan seenaknya saja engkau kembali berteduh dari masalah.  Setelah sekian lama engkau menghilang tanpa kabar.  Dok. Pribadi: Suasana alam Bumi Pajo Aku bukanlah persinggahan.  Tak ada lagi tempatmu untuk kembali pulang.  Engkau hanyalah sepotong kisah yang telah lama usai.  Wallahu a'lam.  Lereng Lareda, 17/2

Nggak Apa-apa Sedikit, yang Penting Rutin

Gambar
|Gunawan| Sampai sejauh ini, aktivitas menulis kian menjamur. Media sosial adalah salah satu pilihan sebagian orang untuk merangkai kata. Ada yang memanfaatkan Facebook, Instagram, blog pribadi, dan berbagai media sosial lainnya.  Tentu saja, ini merupakan berita gembira dalam dunia literasi. Sebuah fenomena yang tentunya perlu diapresiasi. Apalagi, saya perhatikan, tidak sedikit penulis yang muncul dari kalangan anak-anak dan remaja. Ada yang masih usia sekolah hingga baru masuk kuliah. Minat mereka tentu saja beragam. Ada yang spesialis puisi. Ada yang merangkai cerpen. Ada yang suka nulis novel. Juga berbagai ragam tulisan lainnya. Apa pun itu nggak menjadi masalah. Semuanya bagus. Yang penting, masih ada orang yang mau memproduksi kata demi kata.  Karya-karya mereka tersebut tidak lahir begitu saja. Ada proses yang harus ditempuh. Menulis dan terus menulis adalah wajib dilakukan. Juga ada waktu dan tenaga yang harus dikorbankan. Harus mampu menundukkan segala yang menghamb...

Dua Orang yang Pernah Memeluk Luka

Gambar
|Gunawan| Kita adalah dua orang yang pernah memeluk luka, begitu menyayat.  Lalu, dipertemukan dalam kondisi masih patah.  Kita belajar untuk saling menyembuhkan. Tak lupa saling menyemangati.  Berbagai cara telah kita tempuh.  Dan rupanya berhasil kita lewati.  Dok. Pribadi: Suatu malam di bawah langit BP Kini, kita mencoba menikmati bahagia.  Dengan cara kita masing-masing.  Tanpa harus mengutuk segala yang pernah terjadi.  Wallahu a'lam.  Lereng Lareda, 16/2

Cintanya padamu Tak Tergantikan

Gambar
|Gunawan| Dia adalah orang yang begitu mencintaimu, sepenuh hatinya.  Cintanya hanya untukmu.  Kamu harus tahu itu.  Jangan kamu lukai hatinya.  Dia tak ingin meninggalkanmu, apa pun yang terjadi. Cintanya padamu begitu dalam.  Cintanya padamu sudah utuh.  Cintanya padamu tak tergantikan.  Sumber gambar: www.vebma.com Dia sangat berharap, kamulah orang pertama dan terakhir yang akan mengisi ruang hatinya.  Tak ingin ada yang lain lagi.  Dia ingin menemanimu sampai nanti, sampai mati.  Menerima segala kekuranganmu, saling menguatkan, saling melengkapi.  Wallahu a'lam.  Lereng Lareda, 16/2

Sandal Kaum Jomlo

Gambar
|Gunawan| Saya baru saja menunaikan salat berjemaah. Saat keluar dari masjid, saya lihat sandal saya sudah hilang. Tak lagi di tempat yang saya simpan semula. Sudah beberapa kali juga mencarinya di sekitar situ, tak jua saya menemukan wujudnya.  Ya, sudah, mau bagaimana lagi. Saya terpaksa harus pulang dengan tanpa beralaskan sandal walau hanya sebelah. Saya hanya pulang dengan kaki kosong.  Ini bukan kali pertama saya kehilangan sandal. Sudah berkali-kali. Belum lama beli, langsung raib dan tak lagi ada rimbanya. Yang lucu lagi unik, hilangnya sering kali di rumah ibadah, di masjid.  Dok. Pribadi: Sandal saya Entah apa gerangan penyebabnya. Saya tidak tahu. Yang jelas, saya acap kali kehilangan sandal di masjid.  Padahal, kalau saya perhatikan, sandal saya tidak terlalu bagus. Biasa saja. Harganya juga relatif terjangkau. Ya, kalau tidak terjangkau tidak mungkin saya beli.  Atau, mungkin karena orang tahu kalau yang punya sandal itu masih jomlo. Padahal, di san...

Izinkan Aku Mengucap Kata Rindu

Gambar
|Gunawan| Izinkan aku mengucap kata rindu.  Pada kita yang pernah bertemu.  Pada cerita yang pernah terangkai.  Pada kenangan yang pernah tercipta.  Sumber gambar: Freepik.com Tak mudah memang untuk melupakan semua itu.  Walau tetap dan terus kucoba. Meski tak mungkin lagi kita bertemu, izinkan aku mengucap kata rindu.  Walau hanya dalam untaian kata yang kini sedang kau baca.  Wallahu a'lam. Lereng Lareda, 16/2

Kita Pernah Melaluinya Bersama

Gambar
|Gunawan| Kita pernah saling mencintai. Namun oleh karena keadaan yang sungguh sulit dipahami, membuat kita kembali seperti orang asing lagi.  Kita pernah saling mengingatkan. Walau pada akhirnya kita terpaksa harus saling melupakan.  Kita pernah saling menguatkan.  Walau pada akhirnya kita berujung patah dan tak berdaya.  Dok. Pribadi: Salah satu quotes saya Kita pernah berjuang bersama hingga tak ada kata menyerah.  Walau pada akhirnya kita terpaksa harus berpisah.  Dan kini, kita benar-benar belajar untuk saling melupakan.  Harus berjuang sekuat tenaga, karena memang tak semudah membalikkan telapak tangan.  Wallahu a'lam.  Lereng Lareda, 15/2

Modal Dasar untuk Mewujudkan Karya Tulis

Gambar
|Gunawan| Saya tidak pernah menyangka bisa menulis dan menerbitkan buku karya sendiri. Sampai sekarang, saya telah menulis dan menerbitkan puluhan judul buku. Sebuah capaian yang menurut saya begitu menyenangkan dan membahagiakan. Patut saya syukuri. Awalnya, berkat membaca buku, memang saya punya impian untuk menulis buku sendiri. Namun, bertahun-tahun itu hanya sekadar mimpi saja. Saya masih belum tahu bagaimana cara memulai mewujudkan mimpi itu.  Hingga suatu waktu, saya nekat dan bertekad untuk mewujudkan mimpi itu. Saya langsung belajar menulis secara autodidak. Tidak ada yang membimbing. Tidak ada teman diskusi. Pokoknya, saya benar-benar nekat dan memulai seorang diri.  Tentu saja, awalnya tidak begitu mudah. Butuh pengorbanan dan kerja keras untuk melawan segala yang menghambat. Harus mampu menyemangati diri sendiri. Ini penting sekali. Bahwa motivasi yang hadir dari dalam diri sendiri adalah wajib adanya. Orang lain (mungkin) saja bisa mendorong atau memotivasi kita u...