Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2023

Inilah Semesta

Gambar
|Gunawan| Semesta memang tak menentu.  Kadang mendung, lalu memuntahkan hujan.  Kadang juga panas tak terbendung, lalu menimbulkan keringat di sekujur tubuh.  Dok. Pribadi: Salah satu quotes saya Semesta memang tak menentu.  Kadang memunculkan air mata.  Kadang juga hadirkan senyum dan tawa.  Semesta memang tak menentu.  Tak jarang menimbulkan sejuta tanda tanya.  Ya, inilah semesta yang kita diami.  Wallahu a'lam.  Lereng Lareda, 15/2

Jika Suatu Saat Dia Pergi, Kamu Jangan Marah

Gambar
|Gunawan| Kamu adalah orang yang selalu ingin dicintai.  Selalu ingin disayangi.  Selalu ingin dimengerti.  Selalu ingin dipedulikan. Selalu ingin dinomorsatukan.  Selalu ingin dibahagiakan.  Selalu ingin menang sendiri.  Selalu ingin yang terbaik.  Hingga akhirnya kamu lupa bahwa dia juga adalah manusia biasa.  Sama seperti kamu.  Dia juga sama seperti yang kamu inginkan darinya. Minimal, dia juga ingin dicintai, ingin dimengerti.  Dok. Pribadi: Salah satu quotes saya Selama ini, kamu begitu banyak menuntut ini itu darinya.  Namun, di saat yang sama, kamu juga lupa memberikan yang terbaik kepadanya.  Kamu menuntut cintanya padamu sepenuh hati, sementara kamu sendiri malah setengah hati.  Kamu adalah orang yang sudah lupa cara mencinta. Kamu adalah orang yang begitu tak peduli bahwa orang yang mencintaimu sering kali tersiksa.  Jika suatu saat dia mulai menyerah, itu bukan karena cintanya lemah.  Jika suatu saat ...

Ketika Ada Suara Batuk yang Aneh bin Ajaib Saat Khotbah Jumat

Gambar
|Gunawan| Jumat tadi saya naik mimbar. Menyampaikan khotbah Jumat. Jadwal saya memang. Mau tidak mau, saya harus menunaikan amanah ini.  Saya menyampaikan khotbah yang saya tulis sendiri. Saya tulis langsung di HP di aplikasi ColorNote. Khotbah sederhana yang saya sajikan ini mungkin memakan waktu sekitar 10-12 menit. Sebenarnya, saya tidak sempat pasang alarm. Tapi, perkiraan saya, durasinya kira-kira segitu. Boleh dibilang, singkat dan padat.  Sebuah khotbah sederhana lagi pendek. Saya sengaja menulis dan menyampaikan dengan bahasa yang sederhana. Semoga bisa dipahami oleh jemaah. Juga tidak panjang. Saya sengaja menulis yang pendek. Agar jemaah tidak bosan dan menimbulkan "gaduh". Jangan sampai membuat jemaah berteriak dan berdemo. Wah, kalau sampai ini terjadi, sungguh sangat berbahaya.  Alhamdulillah, pada Jumat kali ini, saya perhatikan tidak ada yang bersuara. Tidak ada yang batuk. Beda dengan beberapa kali Jumat sebelumnya. Selalu ada yang batuk. Tidak hanya satu ...

Hidup Penuh Kejutan

Gambar
|Gunawan| Hidup memang penuh kejutan.  Yang lama pacaran, belum tentu berakhir di pelaminan.  Yang hanya mengenal sesaat, tak jarang menjadi serumah dan menjalani hidup bersama sampai akhir hayat.  Sumber gambar: pixabay.com Hidup memang penuh kejutan.  Ada yang sebatas namanya ditulis di lembaran pengantar skripsi.  Ada yang namanya tertulis di buku nikah.  Juga ada yang namanya abadi dalam lirik lagu dan bait-bait puisi, walau akhirnya dia memutuskan bersama dengan yang lain. Hidup memang penuh kejutan.  Datang dan pergi terkadang di luar perencanaan.  Wallahu a'lam.  Lereng Lareda, 12/2

Jangan Lupa dengan Diri Sendiri

Gambar
|Gunawan| Semestinya yang utama itu adalah menyemangati diri sendiri.  Bukan menyemangati orang lain.  Diri sendiri itu jauh lebih penting.  Harus tetap semangat.  Harus tetap kuat.  Harus sehat.  Sebab, kalau diri sendiri tidak semangat terlebih dahulu, rasanya aneh bila orang lain yang disuruh semangat.  Kalau diri sendiri masih terkurung dalam kesedihan dan air mata, rasanya aneh bila orang lain disuruh harus bahagia dan senyum ceria.  Dok. Pribadi: Salah satu quotes saya Kita terkadang lebih sibuk memikirkan perasaan orang lain ketimbang perasaan kita sendiri.  Kita lupa memperhatikan diri sendiri.  Sebaliknya, kita terlalu sibuk memperhatikan orang lain.  Wallahu a'lam. Lereng Lareda, 12/2

Jomlo vs Alumni Jomlo

Gambar
|Gunawan| Tadi, sebelum rangkaian ibadah Jumat ditunaikan, saya ditanya oleh salah seorang jemaah di masjid.  "Bro, kamu tahu nggak, mengapa hujan terus saja berguyur di luar sana?" "Ya, karena sudah waktunya memang, Bang. Ini kan musim hujan. Jadi, wajar saja jika hujan terus mengguyur," jawab saya polos.  "Bukan, Bro. Hujan ini terus turun tanpa henti karena kamu belum menikah," ucapnya dengan suara lirih.  Sumber gambar: pngtree.com Waduh, kok jadi saya penyebabnya, sih. Emang saya ini Tuhan? 😁  Kena lagi dah saya. Di masjid atau di mana pun saya berada, selalu saja kena bully-an dari kaum yang sudah berkeluarga. [] 😄😇 Wallahu a'lam.  Lereng Lareda, 17/2

Jatuh Hati Seorang Diri

Gambar
|Gunawan| Seperti tetesan hujan yang jatuh ke bumi berkali-kali.  Tak pernah bosan, walau kadang ada yang tak sudi.  Begitulah aku jatuh hati padamu, juga berkali-kali.  Dok. Pribadi: Salah satu quotes saya Meskipun memang tak seindah seperti yang kuharap.  Karena aku jatuh hati seorang diri, tanpa ada balasan darimu.  Cintaku rupanya hanya bertepuk sebelah tangan. Wallahu a'lam.  Lereng Lareda, 11/2

Padahal Baru Kemarin

Gambar
|Gunawan| Padahal, baru kemarin kita menikmati bahagia.  Tiba-tiba, duka datang menyapa.  Padahal, baru kemarin kita tertawa riang.  Tiba-tiba, air mata jatuh tak terbendung.  Padahal, baru kemarin kita saling menyapa.  Tiba-tiba, terdengar kabar kau tak lagi ada.  Dok. Pribadi: Salah satu quotes saya Padahal, baru kemarin kita bersatu dalam ikatan.  Tiba-tiba, kita berusaha untuk saling melupakan.  Padahal, baru kemarin kita berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan.  Tiba-tiba, kita saling bermusuhan dan menjatuhkan.  Wallahu a'lam.  Lereng Lareda, 7/2

Jomlo dan Nasi Kotak

Gambar
|Gunawan| "Mas, tumben bawa nasi dari rumah? Lengkap pula lauk dan sayurnya," kata seorang rekan kerja suatu waktu ketika melihat makanan yang saya bawa dari rumah. Dia sudah berkeluarga. Sudah tiga tahun membangun rumah tangga.  "Emangnya nggak boleh, Mbak?"  "Bolehlah, Mas. Hanya saja, saya perhatikan biasanya kalau di ruang kantor, Mas selalu makan nasi kotak atau nasi bungkus yang dibeli di warung sebelah." Dok. Pribadi: Menu makanan suatu waktu "Meskipun laki-laki, saya juga bisa masak, Mbak." "Ya, saya paham. Masalahnya, kata guru saya yang juga sebagai pemerhati jomlo, bahwa jomlo itu identik dengan nasi kotak atau nasi bungkus. Dan juga biasanya yang bawa nasi lengkap beserta lauknya dari rumah di kantor ini adalah rata-rata yang sudah berkeluarga. Emangnya Mas sudah menikah?" Saya nggak jawab pertanyaannya yang terakhir tersebut. Dan tanpa saya jawab juga, dia sudah tahu.  Gini amat ya nasib kaum jomlo. Di mana-mana selalu dika...

Berusaha untuk Saling Melupakan

Gambar
|Gunawan| Kita adalah dua insan yang sedang dilanda masalah.  Kau dan aku merasakan hal yang sama.  Aku tahu ini memang tak mudah. Sungguh tak mudah menjalani kisah semacam ini.  Dok. Pribadi: Salah satu quotes saya Kita sedang berusaha untuk saling melupakan.  Namun, entah mengapa, semakin aku berusaha untuk melupakanmu semakin nyata kamu hadir dalam pikiranku.  Padahal, sudah banyak cara yang kutempuh untuk melupakanmu.  Namun, bayang-bayangmu masih saja terus menghantuiku.  Lalu, apa lagi yang harus kulakukan untuk melupakanmu?  Wallahu a'lam.  Lereng Lareda, 7/2

Sejuta Tanya

Gambar
|Gunawan| Belum lama kau datang, lalu tiba-tiba menghilang.  Awalnya begitu menyenangkan, lalu tiba-tiba terasa sesak di dada dan begitu menyakitkan.  Sumber gambar: pngtree.com Tak ada kata perpisahan yang kau ucap.  Pun tak tahu apa gerangan yang membuatmu menghilang tiba-tiba.  Jika aku sumber masalahnya, lantas mengapa tak kau ungkapkan?  Jangan meninggalkan sejuta tanya yang sulit terjawab.  Wallahu a'lam.  Lereng Lareda, 7/2

Dari Coretan yang Berserakan Menjadi Buku Terbit

Gambar
|Gunawan| Saya selalu meyakini, setiap tulisan pasti akan menemukan pembacanya tersendiri. Apa pun bentuknya (nonfiksi maupun fiksi), yakinlah akan ada yang membacanya. Boleh jadi tulisan itu tak disukai oleh si A, namun digemari oleh si B.  Sama halnya dengan buku. Sebuah buku, apa pun jenisnya, pasti akan menemukan pembacanya tersendiri. Sebab, setiap orang punya selera yang berbeda-beda. Di era sekarang, menulis buku tidaklah terlalu sulit. Menurut saya, sekarang cenderung jauh lebih mudah. Asalkan punya kemauan dan aksi nyata (langsung menulis), melahirkan sebuah buku bukanlah sesuatu yang tidak mungkin.  Jenis buku tentu saja ada beragam. Ada yang berjenis puisi, cerita pendek, novel, catatan perjalanan, dan lain-lain. Ada buku nonfiksi, ada buku fiksi. Ada buku ilmiah, ada buku populer. Atau apa pun sebutan atau klasifikasinya.  Pada catatan receh kali ini, saya hanya mengatakan bahwa coretan yang berserakan juga sangat bisa dijadikan buku. Baik itu coretan yang pan...

Untuk Hari-hari yang Pernah Dilalui

Gambar
|Gunawan| Untuk hari-hari yang pernah dilalui, terima kasih.  Kau sungguh berarti.  Begitu banyak pelajaran hidup yang kau kasih.  Terkadang membuatku lara. Terkadang membuatku kesal.  Terkadang membuatku menangis dan teriris.  Namun, tak jarang kau membuatku senang dan tertawa riang.  Tak jarang kau membuatku bahagia dan tersenyum ceria.  Dok. Pribadi: Salah satu quotes saya Pada akhirnya, aku mulai mengerti.  Apa pun yang terjadi, tak patut disesali.  Segalanya memberi arti.  Untuk hari-hari yang pernah dilalui, terima kasih.  Kau sangat berarti.  Wallahu a'lam.  Lereng Lareda, 7/2

Kau Laksana sang Surya

Gambar
|Gunawan| Pagi yang indah lagi menyejukkan.  Sang surya mulai menyapa.  Hadir memberi senyum kehangatan kepada semesta.  Walau kadang dihina dan dipandang sebelah mata, namun ia tetap memberi kehangatan.  Dok. Pribadi: Suatu waktu di bawah langit Bumi Pajo Kau juga laksana sang surya.  Hadir memberi kehangatan dan keceriaan.  Walau kadang berselimut masalah, kau tetap setia.  Kau tetap ceria dan penuh kelembutan.  Kau laksana sang surya.  Selalu hadir menyinari hati.  Memberi arti kepada sesama.  Selalu dinanti.  Wallahu a'lam. Lereng Lareda, 6/2

Ketika Sakit Datang Menyapa

Gambar
|Gunawan| Hujan semakin awet. Dinginnya pun kian menjadi-jadi. Sungguh sangat menggigil terasa.  Musim hujan kali ini adalah musim hujan yang paling dingin yang pernah saya rasakan di kampung. Sedingin tingkahmu akhir-akhir ini.  Di tengah dingin yang begitu menggigil, terdengar kabar bahwa seorang sahabat saya sedang tak baik-baik saja. Ia menderita sakit. Tiba-tiba jatuh sakit.  Usai salat Asar di masjid, saya sempatkan waktu untuk menjenguknya. Sedih rasanya tatkala melihat dia yang sedang berbaring lemas di kamarnya.  Baru kali ini dia merasakan sakit yang begitu perih seperti ini. Makan tak enak. Hanya bisa berbaring lemas. Ditemani beberapa botol cairan infus.  Beberapa orang yang datang menjenguknya tak bisa berbuat banyak. Semuanya hanya bisa mendoakan, semoga dia lekas sembuh dan kembali bisa beraktivitas sebagaimana biasanya.  Dok. Pribadi: Salah satu quotes saya Setiap kali saya menjenguk orang yang sakit, selalu mengeluhkan satu keadaan yang tak...

Untuk Kamu yang Masih Sedih dan Patah

Gambar
|Gunawan| Untuk kamu yang masih sedih dan patah, jangan menyerah.  Kamu juga punya hak untuk bahagia.  Temukan bahagia itu dengan caramu sendiri. Jika dulu kamu bisa menikmati bahagia, maka kini pun kamu pasti bisa menggapainya. Jangan biarkan dirimu terkubur lara.  Jangan biarkan dirimu terus berkawan air mata duka.  Dok. Pribadi: Salah satu quotes saya Untuk kamu yang masih sedih dan patah, jangan menyerah.  Hapus air mata dukamu itu.  Lalu, sapalah dunia ini dengan senyuman manismu.  Wallahu a'lam.  Lereng Lareda, 2/2

Tidak Selamanya Bahagia yang Datang Menyapa

Gambar
|Gunawan| Kamu harus tahu, cerita seperti ini tak akan pernah berhenti.  Semasih kita masih bernapas di dunia ini, cerita demi cerita akan terus terjadi.  Meskipun kini kamu tak lagi ada di sampingku, bukan berarti kamu akan terus tersenyum bahagia.  Kamu pastinya tahu, bahwa semuanya akan datang silih berganti.  Tidak selamanya bahagia yang datang menyapa.  Juga tidak selamanya air mata duka yang hadir tanpa alpa.  Dok. Pribadi: Salah satu quotes saya Dengan siapa pun kelak kamu menjalin hidup, kamu juga akan mengalami dua fase semacam ini.  Ada saatnya kamu akan menikmati bahagia dan senyum ceria.  Ada saatnya juga kamu akan berselimut lara dan berderai air mata.  Ini hanya persoalan waktu saja. Tidak ada yang benar-benar abadi.  Termasuk perihal perasaan yang akan kita alami. Semuanya akan datang silih berganti.  Ada duka, ada bahagia.  Wallahu a'lam.  Lereng Lareda, 2/2

Di Bawah Langit Malam

Gambar
|Gunawan| Saat melangkahkan kaki ke masjid, dari jauh saya melihat ada kobaran api. Rupanya, ada beberapa anak muda yang hendak bakar-bakar jagung. Namun, kami menunaikan salat Isya terlebih dahulu secara berjemaah di masjid.  Usai salat Isya, saya mampir di tempat tersebut. Bersama beberapa orang tua juga. Saya mencoba menikmati kebersamaan bersama mereka. Bakar-bakar jagung.  Tak ada yang begitu istimewa. Walau demikian, tetap terasa indah. Ya, nuansa kebersamaan semacam ini sungguh indah sekali.  Dinginnya malam tak terasa. Hawa api menjadi penghangat di malam seperti ini.  Dok. Pribadi: Suasana kebersamaan saat bakar-bakar jagung malam ini Saat sedang membakar jagung, cerita demi cerita mengalir begitu saja. Suara tawa pun sesekali menghiasi sang malam.  Tak ada sekat yang memisahkan. Semuanya saling membaur. Sebab, semuanya sudah seperti saudara sendiri.  Ya, beginilah salah satu cara kami anak pelosok desa menikmati kebahagiaan. Duduk bersama di bawah...

Mari Saling Terbuka

Gambar
|Gunawan| Dan kini kau mulai ragu.  Acuh dan membisu, meski kau ada di sampingku. Ada apa gerangan hingga kau seperti itu?  Mungkinkah kau sudah tak ingin lagi menemaniku?  Dok. Pribadi: Salah satu quotes saya Kau tak perlu malu.  Beri tahu saja aku bila kau memang sudah tak mau lagi bersamaku.  Beri tahu saja aku bila kau ingin pergi meninggalkanku. Agar aku bisa belajar melupakanmu.  Kuharap kau mengerti apa yang kumaksud ini. Agar kelak tak ada yang merasa dilukai atau dikhianati.  Mari saling terbuka.  Jangan lagi ada dusta.  Wallahu a'lam.  Lereng Lareda, 31/1

Tak Ada Lagi Tanda Tanya yang Melekat di Hati

Gambar
|Gunawan| Setelah sekian lama tak berkabar, kini kau hadir di depan mata.  Kau datang membawa berita.  Kau datang dengan wajah penuh bahagia.  Kau begitu ceria.  Aku senang bisa bersua denganmu lagi.  Meski hadir sekadar membawa kabar mengejutkan.  Bahwa engkau telah menemukan bahagiamu sendiri.  Bahwa engkau akan segera bersanding di pelaminan.  Sumber gambar: www.gwp.id Terjawab sudah segala tanya selama ini. Dan kini aku mengerti.  Terima kasih sudah membawa kabar ini.  Selamat berbahagia dan menjalani hidup baru penuh arti.  Wallahu a'lam.  Lereng Lareda, 30/1

Tempat Menabung Tulisan

Gambar
|Gunawan| Saat itu, saya sedang di ladang. Bekerja di bawah terik mentari. Sudah pasti keringat bercucuran.  Di sela-sela bekerja, saat istirahat di gubuk, saya sempatkan waktu untuk membuat blog sederhana. Dengan hanya bermodalkan HP saya buat blog tersebut. Beberapa menit kemudian blog sederhana pun jadi.  Meskipun awalnya hanya iseng saja, namun rupanya sangat membantu saya. Saat itu juga, saya langsung mengisi blog tersebut dengan tulisan atau catatan harian saya. Saya langsung mengisinya dengan tulisan yang saya buat usai membuat blog itu. Dok. Pribadi: Salah satu buku karya saya Dulu, sebenarnya saya pernah punya blog sendiri juga. Ada ratusan tulisan yang terdokumentasi di situ. Namun, karena suatu hal, blog tersebut tidak lagi saya pakai.  Perihal blog baru tersebut, sampai sekarang saya masih memanfaatkannya. Saya gunakan untuk menampung tulisan-tulisan harian saya. Blog ini saya anggap sebagai salah satu bank untuk menabung tulisan saya. Berbagai tulisan receh a...

Lupa Diri

Gambar
|Gunawan| Di saat mentari panas menyengat, orang-orang berteriak kepanasan.  Kapan hujan akan mengguyur bumi?  Kapan hujan akan memekarkan daun yang mulai hilang arti?  Kapan hujan akan menghapus luka yang menyayat hati?  Di saat hujan menghapus kehangatan, orang-orang berteriak kedinginan.  Kapan mentari akan menyapa bumi? Kapan mentari memberi senyum pada semesta?  Kapan mentari menghangatkan tubuh ini? Dok. Pribadi: Saat hujan suatu waktu  Saat aku tak lagi ada di sampingmu, kau menghakimiku semaumu.  Engkau bilang akulah penyebab dari segala luka dan lara yang kau alami kini.  Katamu akulah penyebab dari hubungan yang tak lagi nyaman ini.  Kau melampiaskan semua amarahmu padaku.  Padahal, kau sendiri yang memilih menjauh dan pergi.  Dan kita jua telah sepakat untuk mengakhiri hubungan ini.  Tanpa ada yang tersakiti.  Lalu, mengapa kini seolah-olah akulah penyebab dari luka yang engkau alami kini?  Kini, aku k...

Berdamailah dengan Dirimu Sendiri

Gambar
|Gunawan| Kau yang dulu kukenal lemah lembut dan begitu santun, kini berubah menjadi kasar dan tak terkendalikan.  Kau yang dulu kukenal ramah dan begitu sederhana, kini penuh dengan amarah dan tak lagi bersahaja.  Aku tak tahu mengapa semua ini bisa terjadi. Apakah karena kita sudah tak lagi bersama?  Apakah karena kau masih membenciku? Dok. Pribadi: Salah satu quotes saya di IG  Perihal bahwa kita tak lagi bersama, karena memang sudah menjadi keputusan kita bersama.  Apakah kau lupa kalau kita telah bersepakat dan memilih jalan hidup masing-masing? Kau memilih pergi dan menjauh, sementara aku memilih diam dan tetap bertahan di sini.  Semuanya telah kita putuskan bersama dan dengan cara yang baik-baik dan begitu meyakinkan.  Jangan lagi kau menyalahkan keadaan.  Terima saja bahwa kita memang sudah tak lagi mungkin bisa bersama.  Jangan kau menyiksa dirimu sendiri dengan keadaan seperti ini.  Cobalah berdamai dengan dirimu sendiri agar k...

Apa yang Harus Dilakukan Agar Punya Buku Karya Sendiri?

Gambar
|Gunawan| Suatu waktu, seorang anak muda datang menemui saya. Saya jamu ia di teras rumah.  Rupanya, ia ingin melihat ruang kerja sekaligus kamar saya juga. Tanpa lama-lama, saya langsung ajak dia masuk ke ruang kerja.  Di dalam ruang kerja, dia melihat dan membaca sepintas beberapa buku koleksi saya. Termasuk juga beberapa judul buku yang saya tulis.  Kami sempat berbagi cerita. Beberapa cerita receh yang pernah kami alami. Saya tidak banyak bercerita. Saya lebih banyak mendengar ceritanya saja.  "Bang, aku ingin punya buku karya sendiri juga. Apa yang harus aku lakukan untuk mewujudkan mimpi itu?" ucapnya saat ia memegang buku karya saya.  Saya sering kali mendapatkan pertanyaan semacam ini. Tidak hanya di dunia nyata. Di media sosial atau di dunia maya juga saya acap kali mendapatkan pertanyaan serupa.  Tentu saja, saya menjawabnya berdasarkan pengalaman yang saya alami atau yang pernah saya jalani selama ini. Agar tidak terkesan hanya berteori saja. Kar...

Aku Tak Ingin Lagi Melihat Tetesan Air Mata

Gambar
|Gunawan| Lewat dunia maya kau memintaku untuk bertemu denganmu, setelah sekian lama kau menjauh.  Tapi, harus kukatakan, ini tak semudah yang kau inginkan.  Aku juga punya hak untuk menolak.  Aku juga punya hak untuk mengatakan tidak bisa.  Sumber gambar: Pngtree.com Aku sengaja tak ingin menemuimu lagi.  Sesungguhnya aku tidak marah padamu.  Hanya saja, aku tak sanggup untuk menatap matamu lagi.  Sebab, selama ini, ada banyak cara yang kulakukan agar bisa melupakan kepergianmu.  Dan juga aku sudah bisa menerima kepergianmu yang tak beralasan itu.  Dan kini, kau tiba-tiba meminta waktuku untuk bersua denganmu.  Maaf, aku sungguh tak bisa.  Aku takut ada hati yang terluka, entah aku lagi yang terluka atau kamu.  Aku tak ingin lagi melihat tetesan air mata. Wallahu a'lam.  Lereng Lareda, 29/1

Masih Bisakah Kamu Menjaga Hatimu Agar Tetap Utuh?

Gambar
|Gunawan| Lama tak jumpa. Entah sudah berapa purnama.  Rindu kian menggebu.  Apa kabar kamu, seseorang yang pernah kugenggam tangannya tanpa ragu, seseorang yang pernah kukenal lewat kata dan lagu.  Rasa ini masih saja seperti dahulu.  Mencintaimu dengan sepenuh hati dan tanpa ragu.  Aku selalu merindukanmu di sini.  Masih bisakah kamu menjaga hatimu agar tetap utuh, meski tak ada aku di sana sampai detik ini?  Dok. Pribadi: Salah satu quotes saya di Instagram Aku harap kamu bisa menjaga hatimu di sana.  Tetaplah seperti dahulu, yang mencintaiku tanpa ragu dan juga sepenuh hati.  Jangan sampai ada hati yang tersakiti.  Sebab, itu tak baik untuk kita kini dan nanti.  Wallahu a'lam.  Lereng Lareda, 27/1

Berterima Kasihlah kepada Sang Pencipta

Gambar
|Gunawan| Matahari terus datang menyapa. Dari pagi hingga sore hari. Panasnya sungguh terasa.  Di beberapa tempat, tanaman para petani kekurangan air. Ada yang setengah mati berjuang menghadapi kepanasan. Ada juga yang mati karena tak mampu bertahan.  Orang-orang mulai mengeluh. Bahkan, beberapa sudah menyerah. Ada yang menyalahkan keadaan. Kapan hujan akan mengguyur bumi? Mengapa begitu lama cahaya mentari menyapa semesta? Kalau keadaan terus begini, bisa gagal panen tahun ini, katanya.  Namun, saya selalu percaya, setelah air mata duka akan ada senyum bahagia. Setelah kesulitan yang datang melanda akan ada kemudahan yang tak terkira.  Boleh jadi panas menyengat beberapa hari itu sebagai salah satu bentuk ujian di muka bumi ini. Meskipun menyakitkan, yakinlah ada makna tersendiri di balik semua itu. Mungkin Sang Pencipta ingin melihat ciptaan-Nya sejauh mana kita mampu bertahan dengan ujian semacam ini.  Dok. Pribadi: Salah satu quotes saya Kini, setelah bebera...