Kue Kekuasaan
|Gunawan|
"Kini, aku sudah duduk di kursi singgasana. Duduk manis beralaskan sofa. Tidak lagi capek menaiki gunung dan mencangkul sawah ke sana kemari. Aku sudah merdeka," kata Alex usai terpilih menjadi orang nomor satu di kampungnya. Ia berhasil menyingkirkan para pesaing lainnya, di mana sebelumnya mereka sama-sama berteman cangkul dan berkawan parang ketika hendak ke sawah dan ke ladang.
| Sumber gambar: Nusantaranews |
Di awal-awalnya, ketika belum duduk di kursi kekuasaan, Alex rela duduk bersila bersama warga. Duduk beralaskan tanah pun tak mengapa. Ia terus mencoba menjaring atau menangkap berbagai aspirasi dari para warga, di mana pun dia berada. Mendengarkan keluh kesah mereka. Rela hujan-hujanan dan berdiri di bawah terik mentari. Selalu punya cara untuk menarik simpati masyarakat pemilih.
Namun, setelah menjabat, Alex mulai buang muka. Tidak seperti dulu yang selalu ramah kepada siapa saja. Sekarang, sudah enggan lagi untuk menyapa rakyat. Tidak lagi mau mendengarkan keluh kesah masyarakat. Bahkan, orang-orang terdekatnya pun telah dia campakkan. Alex yang dulu begitu baik dan ramah serta pernah menjadi salah satu orator ulung, ketika diperhadapkan dengan kue kekuasaan, sikapnya langsung berubah seketika. []
Wallahu a'lam.
Lereng Lareda, 11/11
Komentar
Posting Komentar