Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

|Gunawan|

Saya tidak begitu mengenal Pak Erizeli Jely Bandaro secara pribadi. Saya hanya mengetahui beliau lewat media sosial saja. Hanya itu, tidak lebih. Itu pun baru beberapa tahun terakhir ini saya mengikuti beliau di media sosial. 

Meskipun belum pernah berjumpa secara langsung, namun saya senang sekali bisa kenal beliau di dunia maya. Melalui tulisan-tulisannya di berbagai media daring, saya berkesimpulan bahwa beliau merupakan orang yang sungguh luar biasa. Orangnya rendah hati dan inspiratif. Selalu menebarkan inspirasi dan hikmah kehidupan melalui tulisan. 

Dalam sebuah tulisannya, beliau mengatakan bahwa beliau menulis setiap hari. Setiap hari beliau menulis selama satu jam. Umumnya beliau menulis ketika di perjalanan menuju suatu tempat dan juga menulis saat menunggu tamu/orang lain di kafe. 

Selama satu jam itu, beliau menghasilkan 3 judul tulisan. Tulisan-tulisan tersebut kemudian dibagikannya ke media sosialnya. Saya dapat informasi perihal banyaknya judul tulisan yang beliau tulis dalam kurun waktu satu jam tersebut adalah ketika saya tanya langsung beliau di kolom komentar di suatu tulisan atau unggahannya.

Tulisan-tulisan beliau ada beragam tema. Ada persoalan bisnis, ekonomi, sosial, politik, budaya, kemasyarakatan. Juga berbagai persoalan atau tema lainnya, termasuk pengalaman hidupnya. Tulisan-tulisannya relatif mudah dipahami. Dikemas dengan bahasa yang sederhana. Seringnya adalah menggunakan dialog. Kayak model cerpen, begitu.

Tulisan-tulisan beliau kadang serius, kadang jenaka. Meskipun di awal tulisannya serius (dan kadang bisa meneteskan air mata), tak jarang di akhirnya mengundang tawa bagi yang membacanya. Sepertinya, beliau paham betul dan pintar membaca psikologi pembaca. Akibatnya, di kolom komentarnya pun ada banyak komentar yang lucu bin kocak. 

Sejauh yang saya baca dan amati, setiap tulisan beliau mengandung makna dan hikmah tersendiri. Terutama pada catatan pengalamannya. Selalu ada inspirasi dan nilai positif yang hadir di tulisannya itu. 

Sumber gambar: FB 'Agustinus Gunawan Admiranto'

Kebiasaannya menyisihkan waktu satu jam untuk menulis tiap hari, bagi saya ini sangat menarik. Di tengah kesibukannya yang begitu padat--sebab katanya beliau hanya tidur 5 jam dalam sehari dan bangun jam 1 malam untuk bekerja--namun beliau masih meluangkan waktu untuk berbagi lewat tulisan. Tidak banyak orang yang punya segudang kesibukan seperti beliau yang mampu menulis tiap hari (dan menghasilkan tiga judul tulisan). 

Apa yang beliau lakukan tersebut sungguh luar biasa dan patut ditiru. Meluangkan waktu dan mau berbagi lewat tulisan. Saya yakin beliau melakukannya sepenuh hati, dengan rasa senang, dan sungguh-sungguh. Dan, saya juga yakin beliau menemukan kebahagiaan lewat menulis yang dilakukannya tersebut. Menulis dengan bahagia, bahagia dengan menulis. 

Ingatan manusia itu terbatas. Hari ini ingat, boleh jadi esok atau lusa hilang tak berbekas. Agar berbagai cerita, kisah hidup, pengalaman, dan/atau pengetahuan mengabadi, menulis menjadi salah satu solusi jitu untuk mengabadikan itu semua. Bahkan, tulisan-tulisan tersebut bisa dibaca kembali di kemudian hari, di samping dibaca oleh orang lain. 

Terima kasih Babo sudah mau berbagi lewat tulisan setiap harinya. Terima kasih sudah mau berbagi inspirasi, cerita, dan kisah. Terima kasih sudah mau berbagi kepingan pengetahuan lewat untaian kata dan kalimat. Saya yakin, ada banyak orang di luar sana--terutama yang ada di dunia maya--yang menantikan kehadiran tulisan Bapak. Teruslah berbagi lewat tulisan. Saya percaya, setiap tulisan, apa pun bentuknya, akan menemukan pembacanya tersendiri. []

Wallahu a'lam. 

Lereng Lareda, 17/11

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal