Salah Naik Kapal
|Gunawan|
Tidak semua rencana bisa berjalan sebagaimana mestinya. Terkadang berada jauh atau di luar dari perencanaan awal.
Saya berencana ke Pulau Sulawesi seorang diri. Ingin mengembara lagi. Saya sudah pesan tiket. Saya pun segera menuju pelabuhan.
Di perjalanan tidak ada hambatan yang begitu berarti. Semuanya berjalan normal. Namun, saat tiba di pelabuhan, saya ketinggalan kapal.
Saya lihat, kapal sudah berada jauh di tengah lautan. Tidak mungkin saya mengejarnya. Ya, sudah, saya pasrah saja.
Namun, masih ada satu kapal besar yang bersandar di pelabuhan. Entah kapal jenis apa itu. Tanpa pikir panjang, saya langsung naik saja kapal itu. Naik lewat jalur tikus, tanpa menggunakan tiket. Tanpa mau tahu tujuan kapal ini hendak ke mana.
Setiba di dek dalam kapal, saya perhatikan sebagian besar penumpangnya adalah warga negara asing, alias bule. Saya tanya, ternyata kebanyakan mereka berasal dari Australia. Saya tidak sempat tanya tujuan mereka mau ke mana.
| Sumber gambar: Amazon.com |
Setelah tiba di tengah lautan, baru saya diberitahu. Ternyata, kapal tersebut bertujuan ke Australia. Hanya saja, kapal tersebut akan bersandar sejenak di Papua.
Saya panik. Saya sudah telanjur naik kapal tersebut. Sudah tidak mungkin lagi saya terjun ke laut untuk kemudian berenang hingga ke tepi laut. Sebab, lautannya sangat luas. Bisa mati saya kalau sampai nekat terjun bebas ke laut dan berusaha berenang hingga ke sisi pantai.
Di kapal saya hanya bisa pasrah. Belum lagi, uang di kantong semakin menipis. Meskipun saya harus terpaksa turun di pelabuhan di Papua, tak akan mungkin saya langsung balik ke Makassar.
Mau tidak mau, saya harus singgah dulu di Papua untuk beberapa hari. Saya juga harus bekerja dan mencari dulu uang di sana agar ada modal untuk beli tiket. Benar saja, saya terpaksa turun di pelabuhan di Papua dan menetap di sana untuk beberapa hari kemudian, entah sampai kapan.
Tak ada yang saya kenal ketika tiba di Papua. Saya makin panik. Tapi, segera saya tarik napas dalam-dalam. Semuanya akan baik-baik saja, kata saya dalam hati.
Saya pasrah saja. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, ini sudah menjadi bagian dari cerita hidup saya. Apa pun itu, saya harus menjalaninya sepenuh hati.
Sang jingga tampak di ufuk barat sana. Pertanda, malam akan tiba. Saya segera mencari tempat untuk istirahat. Saya menemukan sebuah ruko (rumah toko).
Saya pikir, nggak ada masalah kalau saya memutuskan untuk tidur di pelataran depan ruko itu. Untung saja ada kardus bekas sebagai alas saya tidur. Segera saya keluarkan satu lembar sarung dari dalam tas.
Suasana malamnya sunyi. Namun, saya tidak takut. Apa pun yang terjadi, saya hanya bersandar kepada Tuhan saja. Semoga tidak terjadi apa-apa di malam ini.
Tiba-tiba, saya dikagetkan oleh suara mangga yang jatuh mengenai atap rumah. Entah berapa biji mangga yang jatuh mengenai atap rumah yang terbuat dari seng tersebut. Saya sungguh kaget, hingga saya pun terbangun dari tidur.
Saya sangat bersyukur, ternyata semua ini hanya mimpi belaka. Hanya bunga tidur di tengah malam. Sungguh, tak menyangka mimpi saya bisa sampai sedetail ini. Sampai-sampai keringat saya pun membasahi selembar baju yang saya pakai. Sungguh, sebuah mimpi yang mirip uji nyali. []
Wallahu a'lam.
Lereng Lareda, 18/1
Komentar
Posting Komentar