Antara Buku dan Baju

|Gunawan|

Saya masih ingat ketika di tanah rantau dulu, di Kota Makassar. Saat di mana saya mulai akrab dengan buku. Lebih tepatnya, dipaksa akrab dengan dunia buku. Mengapa demikian? Karena memang, awalnya saya tidak begitu suka dengan dunia buku. Namun, karena dipaksa oleh keadaan dan situasi di situ, perlahan-lahan saya mulai menyukai dunia buku. Tentu saja, tidak mudah untuk sampai di tahap itu. 

Ketika di kampus, karena kebutuhan tugas mata kuliah dan lainnya, saya "dipaksa" untuk berkunjung ke perpustakaan. Saya juga, mau tidak mau, harus membeli beberapa buku penunjang perkuliahan. Membaca berbagai jenis buku, meskipun awalnya sangat berat, suka atau tidak suka, harus saya jalani. Tak jarang rasa kantuk menyerang saya ketika membaca buku. Bahkan, tatkala saya kesulitan untuk tidur, membaca buku menjadi salah satu jurus ampuh agar rasa kantuk itu hadir dan mata mau terpejam dengan sendirinya. 

Di pelataran kampus saya dulu, ada beberapa orang yang menjual berbagai koleksi buku. Ada beberapa titik. Salah satu penjual yang saya kenal adalah Mas Ilham. Masih muda. Beberapa tahun kemudian dan sampai sekarang, beliau bekerja di Toko Buku Al Farabi Makassar. TB Al Farabi adalah salah satu toko buku favorit saya. Saya acap kali berkunjung ke toko buku ini.

Ketika ada rezeki, tak jarang saya sisihkan untuk membeli buku, meskipun hanya satu buku. Kadang saya beli di Gramedia. Kadang buku saya beli di Toha Putra yang terletak depan kampus 1 UINAM. Kadang beli di Paradigma Ilmu. Kadang di Ende Jaya. Sering juga saya beli buku yang dijual di area kampus. Juga membeli buku di beberapa toko buku lainnya yang ada di wilayah Makassar dan Gowa.

Saat ada pameran atau bazar buku, saya usahakan untuk hadir. Ingin melihat berbagai jenis buku. Jika ada cukup uang, saya beli, walau hanya satu buku. Jika isi dompet sedang menjelang sekarat, biasanya saya hanya berani membaca saja berbagai jenis buku yang ada di tempat pameran atau di tempat bazar tersebut. Pun ketika berkunjung ke beberapa toko buku, kadang bertujuan hanya untuk membaca buku saja, tidak untuk membeli buku. 

Entah mengapa saya dulu tidak terlalu suka mengoleksi pakaian atau baju. Seingat saya, di tanah rantau dulu saya hanya beli beberapa lembar baju saja. Juga saya hanya akan membeli baju jika harganya murah meriah. Maka, tempat yang biasanya saya kunjungi untuk membeli baju (dan juga celana) adalah pasar malam. Sebab, di sana harganya relatif murah. Cakar atau pakaian bekas yang dijual di pinggir jalan, tak jarang menjadi buruan saya. Itu pun hanya satu dua lembar saja baju atau pakaian yang saya beli. 

Saya masih ingat, salah satu pakaian yang saya beli dulu adalah semacam jaket atau sweter warna hitam. Ada tulisan "1919" di depannya, tulisannya warna putih. Harganya saat itu hanya tiga ribu rupiah (Rp 3.000) saja. Mungkin Anda tidak akan percaya. Tapi, memang begitulah adanya. Dan, pakaian tersebut adalah salah satu pakaian favorit saya ke mana pun saya melangkah pergi. Sayangnya, sweter yang dimaksud sudah rusak dan entah ke mana wujudnya. Gambar atau model sweternya bisa dilihat di foto profil Facebook saya. 

Dok. Pribadi: Foto dengan sweter kesayangan

Begitulah saya dulu di tanah rantau. Tidak terlalu suka mengoleksi baju atau pakaian. Dan jika ingin membeli pakaian, tempatnya juga tak jauh dari pasar malam dan cakar yang diobral di pinggir-pinggir jalan. Jika ada rezeki atau hasil nabung, saya lebih banyak menggunakannnya untuk membeli buku bacaan ketimbang baju. 

Sampai sekarang, jika ada rezeki dan disuruh memilih, mana yang lebih disukai antara membeli buku atau baju? Maka, saya akan memilih kamu. Eh, maksudnya, saya akan lebih banyak untuk membeli buku. Bagaimana dengan Anda yang sedang membaca catatan receh saya ini, jika diperhadapkan dengan dua pilihan, lebih suka membeli buku atau baju (pakaian)?

Wallahu a'lam.

Lereng Lareda, 11/11

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal