Belajar dari Liger

|Gunawan|

Dulu, ketika sekolah, saya punya banyak teman. Mereka punya kelebihan masing-masing. Ada yang pintar di ilmu alam dan matematika. Ada juga yang jago di ilmu sosial. Ada yang pintar di hafalan. Ada pula yang jago di bagian hitungan. 

Dalam bidang lain juga begitu. Ada yang jago menggambar atau melukis. Ada yang pintar bermain sepak bola. Ada yang pintar bermain tenis meja. Ada yang pintar bermain gitar. Ada juga yang jago menyanyi. Ada yang pintar di berbagai bidang lainnya. Hemat saya, mereka punya kelebihan atau keunggulan di bidangnya masing-masing. 

Namun, entah mengapa ada orang tua yang punya anggapan bahwa anak dikatakan pintar manakala ia jago di ilmu eksakta atau hitungan. Lebih umummya, beberapa orang tua mengatakan bahwa anak dikatakan pintar itu bilamana ia jago di bidang matematika. Selain di bidang itu, dianggap tidak pintar. 

Anggapan beberapa orang tua semacam itu tentu saja akan berdampak kurang baik bagi perkembangan anaknya. Apalagi kalau ada orang tua yang tidak menghargai keunggulan anaknya di bidang tertentu. Orang tua harus tahu bahwa semua anak punya keunikan atau kelebihannya masing-masing. Dan, boleh jadi kelebihannya itu tidak dimiliki oleh orang lain. 

Seorang profesor sekalipun tidak akan mampu menguasai semua bidang keilmuan. Ia menyandang status sebagai seorang profesor karena ia fokus pada satu bidang kajian atau keilmuan saja. Umumnya begitu. Seorang profesor di Bidang Ilmu Fisika, misalnya, coba suruh dia menjelaskan mengenai persoalan Bahasa dan Budaya Arab? Apakah dia bisa atau akan berakhir gagap? 

Seorang yang ahli membuat pesawat terbang, belum tentu bisa membuat sebilah parang atau sebuah pisau kecil. Seorang yang jago di bidang ilmu hitung, boleh jadi ia begitu sulit ketika berhadapan dengan ilmu sosial. 

Beberapa waktu lalu, saya sempat menonton salah satu film yang menarik. Sebuah film Bollywood yang berjudul "Liger". Saya tonton lewat aplikasi YouTube. Menurut saya, jalan cerita film tersebut bagus sekali. Film tersebut tidak hanya menghibur, namun juga mengedukasi dan penuh hikmah. Ada banyak nilai positif atau pembelajaran yang hadir di dalam film tersebut. 

Diceritakan bahwa pemeran utama pria dalam film tersebut adalah pemuda biasa lagi sederhana. Ia punya salah satu keahlian yang begitu luar biasa. Ia jago beladiri. Sebuah beladiri yang diciptakan oleh Bruce Lee. Namun, ia punya masalah dengan fisiknya, yakni gagap. Tidak bisa berbicara atau berucap dengan jelas. Ketika berbicara, karena gagap, ia sering kali dihina atau di-bully oleh orang-orang. 

Untung saja, dia punya seorang ibu yang begitu luar biasa. Ibunya terus menyemangatinya. Bahkan, disuruhnya untuk terus mendalami ilmu beladiri yang dikuasainya tersebut. Ia kemudian didaftarkan oleh ibunya untuk bergabung dan belajar di sebuah perguruan beladiri. Di awal-awal masuk di perguruan beladiri tersebut pun, Liger acap kali dimaki atau di-bully oleh beberapa murid atau anak didik lainnya.

Sumber gambar: Bollywoodmdb.com

Ia sempat putus asa. Ia hilang semangat gara-gara terus dicemooh karena kegagapannya. Bahkan, ia nyaris tak mau ikut kejuaraan nasional dalam seni beladiri campuran--sekarang kita mengenalnya MMA--gara-gara dimaki atau di-bully. Namun, beruntungnya Liger punya seorang ibu yang luar biasa yang selalu mendukung dan menyemangati dirinya. 

"Nak, setiap orang punya kekurangan. Jika kau berhasil, tidak ada yang akan melihat kekuranganmu. Jika berhasil, orang yang pendek akan terlihat tinggi, dan orang yang berkulit gelap akan terlihat putih," demikian untaian kata ibunya Liger kepada dirinya. 

Akhirnya, seiring berputarnya waktu, Liger kembali bersemangat dan terus berlatih. Ia terus memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Kata-kata motivasi yang diucapkan oleh ibunya tersebut menjadi api penyemangat buat Liger. Apa yang terjadi kemudian? Ya, Liger yang hanya pemuda biasa dan anak desa, akhirnya mampu menjadi juara nasional dalam seni beladiri campuran. Ia berhasil mengalahkan para jagoan lainnya. Bahkan, setelah itu, ia juga berhasil menyabet juara satu dalam kancah internasional dan berhasil mengalahkan sang juara dunia sebelumnya. 

Nah, dari film Liger ini saja kita bisa lihat bahwa setiap orang punya kelebihan atau keunggulannya masing-masing. Bahwa di balik kekurangan seseorang, ada kelebihan atau potensi yang luar biasa. Temukan kelebihan atau potensi yang dimaksud. Fokus di kelebihan itu. Buktikan bahwa kita punya potensi yang luar biasa yang bisa jadi tidak dimiliki oleh orang lain. Mari kita belajar dari Liger yang mampu menutupi kekurangannya dengan potensi atau salah satu kelebihan yang dimilikinya. Juga menjadi orang tua yang selalu mendukung apa pun potensi atau kemampuan anak-anaknya. []

Wallahu a'lam. 

Lereng Lareda, 11/11

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal