Catatan Receh Tigabelas November
|Gunawan|
Hari menjelang sore, awan hitam tampak menyelimuti langit. Hujan pun datang tanpa kompromi. Angin kencang turut menyertai. Gemuruh halilintar sesekali terdengar.
Anak-anak bercanda ria. Menyapa hujan. Ada yang berlari di bawah guyuran hujan. Ada pula yang sekadar menyaksikan tetesan hujan di teras rumahnya.
Ada yang bilang, sangat berbahaya kalau mandi hujan. Takut disambar petir. Sebab, ada banyak kejadian atau berita yang beredar perihal orang yang terkena petir hingga meninggal dunia. Namun, tidak dengan anak-anak itu. Mereka asyik saja menikmati guyuran hujan, bercanda ria bersama. Tanpa peduli suara guntur yang kadang tiba-tiba datang menyambar.
Saya sedang berselancar di alam maya. Mencari beberapa informasi. Membaca berita terkini. Juga membaca dan menelaah berbagai artikel di beberapa media online.
![]() |
| Dok. Pribadi: Hujan deras suatu sore |
Hujan kian deras. Terdengar jelas di atap rumah. Ingin rasanya tidur, namun mata tak bisa diajak kerja sama. Ya, sudah. Karena tidak bisa tidur, kemudian saya manfaatkan saja waktu tersebut untuk membaca tulisan-tulisan pendek beberapa sahabat maya.
Setelah berselancar di media sosial, saya juga meluangkan waktu untuk membaca beberapa paragraf buku "The Man Who Forgot How to Read". Buku yang ditulis oleh Howard Engel. Sebuah buku yang amat menarik. Sebenarnya, sudah beberapa kali saya membaca buku ini, namun masih saja menarik untuk ditelaah lebih lanjut.
Di luar sana masih terdengar anak-anak yang mandi hujan. Mereka begitu asyik dan menikmati guyuran hujan yang semakin deras. Bahkan, mereka saling melempar pakai lumpur. Begitulah dunia anak-anak. []
Wallahu a'lam.
Lereng Lareda dan So Rora, 14/11

Komentar
Posting Komentar