Suara Memanggil di Air Terjun Mini

|Gunawan|

Pagi yang cerah. Sinar matahari turut menyapa. Sejuk dan adem terasa. 

Sekira pukul 09:55 WITA saya beranjak ke hutan. Sekaligus ke kebun. Ingin melepas penat. Berangkat seorang diri.

Karena ke hutan, tentu saja melewati jalan setapak. Pemandangan kiri kanan jalan setapak penuh dengan semak-semak dan pepohonan. Hijau, asri, dan memanjakan mata. 

Kicauan burung dan suara monyet menemani dalam kesunyian di hutan. Indah sekali. 

Entah mengapa saya suka dengan dunia hutan. Barangkali karena saya lahir dan dibesarkan di wilayah pedesaan. Juga sejak kecil memang saya sudah akrab dengan suasana di area hutan. Sehingga, walaupun berangkat seorang diri ke hutan, tidak menjadi persoalan.

Walaupun sudah terbiasa menyendiri di hutan, saya tetap harus waspada. Soalnya takut ada babi hutan yang muncul tiba-tiba dan di luar dugaan. Maka, sebagai teman dalam sunyi tersebut, saya selalu membawa sebilah parang. Di samping itu, parang yang dibawa tersebut, saya gunakan juga untuk membersihkan area sekitar atau membuat jalan setapak ke tempat yang dituju. 

Siang pun menyapa. Usai melepas penat di hutan dan singgah di kebun, saya memutuskan untuk pulang. Untuk menyegarkan badan, saya mampir mandi sejenak di sebuah air terjun mini. Airnya segar dan dingin sekali. Bagus buat badan yang letih. 

Dok. Pribadi: Air Terjun Mini

Saat asyik menikmati percikan air terjun mini tersebut, terdengar ada suara seseorang yang memanggil. Saya lihat di sekitar, tidak ada orang. Hanya ada segerombolan monyet saja yang lompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Saya tetap menikmati air terjun mini tersebut. Mandi sepuasnya. 

Sebelum pulang, saya juga menyempatkan diri untuk memetik sayuran paku yang terlihat di sisi kiri kanan sungai. Orang di kampung kami menyebutnya "faku". Saya juga memetik sayuran "manura" yang tumbuh berjejer di tebing tinggi. 

Di sungai ini, ada banyak sayuran paku/pakis. Apalagi, di tempat yang saya tuju ini, sungguh banyak sekali pakis yang masih segar. Sebab, di tempat ini jarang orang yang datang. Saya juga hanya memetik pakis di beberapa titik saja, langsung penuh kedua tangan. Masih ada banyak titik yang terlihat sayuran pakis dan tidak saya petik. Saya biarkan saja, sempat ada orang lain yang akan datang mengambil atau memetiknya. 

Sama seperti saat mandi di air terjun mini tadi, saat memetik sayuran paku juga saya mendengar suara orang yang memanggil. Namun, lagi dan lagi, hanya suara saja yang terdengar di telinga. Saya mencoba mencari sumber suara, namun tidak ada wujudnya. Mungkinkah ini hanya halusinasi saya saja? Atau ini merupakan suara segerombolan monyet di sekitar saya yang sedang berkelahi dan menyerupai suara manusia? Entahlah. Saya tetap memetik sayuran pakis dan mengambil "manura" di tebing. Setelah dirasa cukup, saya langsung pulang. Saya pulang membawa sayuran dan juga beberapa potong bambu. []

Wallahu a'lam. 

Lereng Lareda, 26/11

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal