Tamu Istimewa?

|Gunawan|

Malam itu relatif ramai. Orang-orang datang dari berbagai tempat dan daerah. Mereka turut andil dalam kegiatan yang bertajuk literasi. Di lokasi acara, orang-orang saling menyapa. Bercerita ini dan itu. 

Seperti biasa, selalu saja ada yang ditunggu sebelum acara dimulai. Menunggu, menunggu, dan terus menunggu. Rasanya sudah menjadi kebiasaan yang sulit diubah. Memulai acara selalu tidak tepat waktu. Begitulah yang terjadi. 

Tatkala dia hadir, orang-orang berdiri dari tempat duduknya dan badan membungkuk. Menyambut kedatangannya. Suara yang semula riuh seketika sunyi. Suara tawa pun tak lagi terdengar. Semuanya serius menyambut kehadirannya. 

Acara pun dimulai. Tamu istimewa yang ditunggu tadi naik ke atas panggung. Dia memberikan sambutan sejenak dan membuka acara secara resmi. Tepuk tangan riuh ketika dia mengakhiri pembicaraannya. 

Tiba-tiba, seorang lelaki menunjukkan kebolehannya di atas panggung. Menghibur para tamu yang hadir. Suaranya lantang dan berapi-api. Keresahan dan kegundahan yang disampaikannya begitu menyayat hati. Ada luka. Ada air mata. Orang-orang meresapi sepenuh hati. 

Namun, raut wajah tamu istimewa tadi biasa-biasa saja. Tidak berubah. Tidak menunjukkan kesedihan. Mungkin keresahan atau kegundahan yang disampaikan oleh seorang laki-laki tadi tidak sampai ke hatinya. Atau, ada hal lain yang dipikirkan oleh tamu istimewa itu? Entahlah. 

Ketika acara usai, langkah kaki tamu istimewa itu menuju meja seorang anak yang sedang memamerkan barang dagangannya. Menuju meja itu, dia ditemani oleh beberapa ajudannya. Tangannya mulai memilih beberapa barang dagangan anak itu. Matanya langsung tertuju ke sebuah buku yang bersampul merah muda, Cinta dan Air Mata. 

Dok. Pribadi: Buku 'Cinta dan Air Mata'

"Ini buku bagus, Bu. Semoga Ibu berkenan membeli dan membacanya. Setidaknya, buat koleksi pribadi Ibu."

"Dari judulnya saja sepertinya menarik sekali ini, Dek."

"Saya senang sekali bila Ibu sudi membeli dan membaca isi buku ini."

"Iya, Dek. Aku beli satu, ya," kata Ibu itu. Sejenak tamu istimewa itu membaca untaian kata yang tertulis di sampul belakang buku. Tiba-tiba, matanya berkaca-kaca. 

"Ini bukunya, Bu. Terima kasih banyak sudah berkenan menyapa saya."

Tamu istimewa tadi kemudian mengeluarkan isi dompetnya. Memberikan kepingan rupiah kepada si anak penjual tadi. Lalu, dia bergegas naik ke sebuah mobil putih. Tampak, matanya masih berkaca-kaca. []

Wallahu a'lam. 

Lereng Lareda, 14/11

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal