Yang Penting Ada Beras
|Gunawan|
Tanah rantau adalah tanah yang penuh kenangan. Ada banyak cerita atau kisah yang tercipta. Di tanah rantau pula ada banyak pelajaran hidup yang akan ditemui.
Tidak mudah memang hidup di tanah rantau atau di daerahnya orang lain. Di tanah rantau, seseorang akan belajar banyak hal. Belajar mandiri. Belajar bertahan hidup di tengah kegentingan atau kesulitan yang menimpa.
Perubahan pada diri sendiri akan jauh lebih terasa ketika seseorang berada di tanah rantau. Yang awalnya tidak bisa memasak, misalnya, di tanah rantau seseorang akan dipaksa untuk bisa memasak. Yang ketika berada di kampung sendiri ogah untuk mencuci pakaiannya, ketika berada di tanah rantau seseorang dipaksa untuk mau mencuci pakaian sendiri. Pokoknya, serba sendiri, kecuali kalau ada yang menemani.
Ada satu hal yang menarik ketika berada di tanah rantau, yakni persoalan perut. Ya, makanan menjadi salah satu hal yang terpenting di tanah rantau. Ada makanan, perut aman. Ketika perut lapar dan tak ada makanan, tidur pun tak nyenyak.
Dulu, ketika berada di perantauan, hal pertama yang selalu saya perhatikan adalah keberadaan beras. Karena makanan pokok adalah nasi, maka kehadiran beras merupakan sebuah keharusan. Jika beras ada, hidup saya relatif aman dan sentosa. Sebaliknya, manakala sebutir beras pun tak ada di dapur (kos-kosan), hidup teras pilu, bagai diiris sembilu. Lebih perih ketimbang diputusin sang pacar.
| Sumber gambar: Tribunnews.com |
Saat nge-kos sendiri di tanah rantau, saya pernah kehabisan beras. Tiga hari berturut-turut saya tidak makan. Uang pun benar-benar habis, tak tersisa. Untungnya, saya masih punya stok madu hutan di kos. Nah, madu inilah yang saya minum selama tiga hari itu untuk mengganjal perut. Saya minum madu tersebut di pagi dan sore hari. Usai minum madu tersebut, baru kemudian saya berani minum air.
Tiga hari saya menahan lapar. Tiga hari pula tubuh saya berkeringat dingin. Keringat dingin karena menahan rasa lapar. Dan, alhamdulillah, dari hasil penjualan buku, di hari keempatnya saya baru bisa dapat uang. Uang itulah kemudian saya gunakan untuk membeli beras dan lauk seadanya. Akhirnya, saya kembali bisa mengisi perut dengan nasi.
Pernah juga ketika tidak ada beras, saya hanya merebus sayuran dan memakannya tanpa nasi. Hanya makan sayur saja. Namun, ini jauh lebih baik ketimbang kasus saya seperti yang diceritakan di atas, yang tak bisa menikmati makanan selama tiga hari berturut-turut.
Itulah mengapa saya katakan bahwa keberadaan beras ketika hidup di tanah rantau itu sangat penting sekali. Bagi saya, beras adalah salah satu barang mewah yang amat berharga. Ada beras, hidup relatif aman. Tak ada beras, hidup terasa hampa. []
Wallahu a'lam.
Lereng Lareda, 11/11
Komentar
Posting Komentar