Air Mata Itu
|Gunawan|
Badan terasa lelah. Tadi malam saya kurang tidur. Saya tidur tidak lebih dari dua jam. Saya begadang di rumah paman. Mengaji di sana. Hari Jumat lalu anaknya meninggal dunia. Kebiasaan di kampung saya, kalau ada orang yang meninggal dunia, tujuh malam pertama harus diisi dengan pengajian atau tadarus Al-Quran.
Pagi ini saya harus ke rumah sakit umum Dompu. Saya ditugaskan untuk menemani salah satu anggota keluarga besar yang akan dirujuk di rumah sakit Mataram.
Setiba di RSUD Dompu, suasana begitu ramai. Ada banyak orang yang menjenguk. Sejenak suasana haru di rumah sakit. Ada yang tak sanggup menyembunyikan air matanya.
Tidak sampai satu jam saya berada di rumah sakit ini. Hingga akhirnya jadwal keberangkatan kami pun tiba. Sekira pukul 10:38 WITA sopir menyalakan mobil ambulans. Kembali suasana tangis dan haru menyelimuti keberangkatan kami.
| Sumber gambar: Kata-kata.web.id |
Saya kira ini adalah hal yang wajar. Dalam hidup memang selalu mengandung dua sisi. Adakalanya kita berteman bahagia dan senyum ceria. Adakalanya juga kita berkawan duka dan air mata.
Sama halnya seperti yang terjadi hari ini. Ada kesedihan mendalam yang menyertai keberangkatan kami. Ada air mata. Tak bisa disembunyikan.
Anak kecil itu tak kuasa menahan kesedihannya. Air matanya mengalir membasahi pipinya. Begitu juga dengan beberapa orang yang lain. Matanya berkaca-kaca. []
Wallahu a'lam.
Selat Lombok, 28/12
Komentar
Posting Komentar