Akhirnya Nikah Juga
|Gunawan|
Saya menyempatkan diri untuk menonton laga final FIFA World Cup antara Argentina melawan Prancis. Meskipun ngatuk, saya tetap usahakan untuk ikut nonton bareng. Apalagi ini adalah pertandingan terakhir untuk piala dunia tahun ini. Sayang rasanya bila dilewatkan. Kendati tim kesayangan saya (Spanyol) telah tersingkir di babak enam belas besar.
Suasana malam ini begitu ramai. Beruntung juga tidak turun hujan. Seandainya hujan turun, saya yakin tetap banyak orang yang akan menyaksikan laga pamungkas malam ini. Ya, namanya juga partai final. Bagi yang tidak hobi sepak bola, mungkin tak akan ikut menonton. Tapi, bagi pencinta dunia sepak bola, rasanya sayang jika laga final piala dunia tidak disaksikan.
Pertandingan kedua kesebelasan cukup seru. Meskipun dua gol awal dicetak oleh kesebelasan Argentina, namun lewat kaki Mbappe di menit ke-79 dan ke-81, Prancis berhasil membalasnya dan skor menjadi imbang. Permainan semakin sengit, hingga akhirnya skor berubah menjadi 3-3 sampai waktu normal selesai. Melalui tambahan waktu dua kali lima belas menit, tetap tidak ada yang mampu menjebol gawang masing-masing lawan. Mau tidak mau, harus melewati drama adu penalti. Hingga akhirnya, trofi juara satu piala dunia kali ini dimenangkan oleh Messi dan kawan-kawan dengan skor 4-2 melalui drama adu penalti.
Saya perhatikan di sekitar saya, para pendukung Argentina bergembira ria. Mereka bersorak-sorai. Meskipun pada saat imbang sebelumnya (2-2), ada juga yang merasa minder dan kecewa. Bahkan, ada yang sampai menyalahkan sang pelatih.
"Payah pelatih Argentina. Seandainya De Maria nggak diganti, skor nggak akan berubah seperti ini," kata salah seorang pendukung fanatik Argentina saat Prancis berhasil mengubah kedudukan menjadi imbang dengan skor 2-2.
Saya bisa memahami apa yang dikatakan oleh pendukung fanatik Argentina tersebut. Dan, namanya juga penonton, yang hanya bisa menyaksikan dan mengomentari semaunya. Strategi apa pun yang diterapkan atau dimainkan oleh sang selatih, jika skornya sudah demikian, maka semuanya salah. Kira-kira begitu setelah saya mendengar komentar beberapa penggemar tim Argentina saat nonton bareng ini.
Beda lagi ceritanya dengan salah satu sahabat maya saya, yang juga pendukung Prancis. Meskipun di babak semi final sebelumnya dia bisa tersenyum riang lantaran Prancis mampu mengalahkan kesebelasan Maroko, namun tidak dengan malam ini. Malam ini, sepertinya dia ikut sedih. Sedih karena tim yang dia jagokan kalah dari Argentina.
![]() |
| Dok. Pribadi: Salah seorang pendukung Prancis bersama dua buku saya |
Walau demikian, jika saya membaca status dia di Facebook-nya, harusnya dia merasa senang dan bahagia. Sebab, katanya, kalau Prancis kalah, akhir tahun ini dia akan menikah. Dia akan mengakhiri masa lajangnya. Bukankah ini sebuah bentuk kebahagiaan yang lama ia nantikan? Barangkali ini yang dinamakan dengan 'habis sedih, terbitlah bahagia'.
"Akhirnya nikah juga, Bang," tulis saya di kolom komentarnya, menanggapi status FB-nya.
Jika sebelumnya dia gagal menikah gara-gara Prancis mampu mengalahkan Maroko, maka kali ini akhirnya dia jadi menikah. Sebab, tim kesayangannya, Prancis, kalah dari Argentina. Selamat, Bang. Akhirnya nikah juga. Saya ikut senang mendengarnya.
Tolong sudahi kesedihannya, Bang. Sebab, dengan kalahnya tim Prancis kesayangan Anda, akhirnya Anda juga jadi menikah. Coba bayangkan kalau kesebelasan Prancis menang dan berhasil angkat trofi juara satu, kan Anda nggak jadi nikah alias gagal nikah (lagi).
Ya, sesungguhnya yang ingin saya sampaikan lewat catatan receh ini adalah bahwa salah satu sahabat maya saya akan menikah akhir tahun ini gara-gara tim Prancis kalah. Sekali lagi, selamat, Bang. Akhirnya nikah juga. Sepertinya Anda tidak akan lagi berteman dengan bayangannya sendiri, karena sudah ada yang (akan) menemani. []
Wallahu a'lam.
Lereng Lareda, 19/12

Komentar
Posting Komentar