Bila Susah Tidur

|Gunawan|

Saat tinggal di kos-kosan di tanah rantau, saya kadang susah tidur. Tidak tahu kenapa. Beberapa kali pernah begadang sampai pagi. 

Untung saja di tanah rantau saya mulai suka baca buku. Maka, bila susah tidur, membaca buku menjadi salah satu alternatif saya. Agar apa? Agar saya bisa menguap dan tidur. Beberapa kali saya pernah melakukannya. Dan, manjur. 

Tidak hanya itu. Bila di kos susah tidur, saya memilih ke masjid. Setelah beberapa saat berada di dalam masjid, entah mengapa rasanya ingin langsung tidur. Ya, sudah, karena tujuannya ingin tidur, saya langsung tidur saja. Walau tidurnya hanya sebentar. 

Bicara tentang tidur di masjid, ini menarik. Khususnya ketika Jumatan. Saya sering kali menemukan orang yang tidur ketika khatib menyampaikan isi khotbahnya. Ada yang sampai ngorok. Ada juga yang sampai jatuh. Bahkan, ada yang tidak tahu kalau khutbah Jumat sudah selesai. Nah, untuk kasus yang terakhir ini, untung saja ada yang membangunkannya untuk kemudian diajak melanjutkan salat Jumat bersama. 

Seingat saya, saya tidak pernah tidur ketika sang khatib menyampaikan khotbah. Hanya sampai menguap saja. Walau memang kadang ingin tidur, saya tetap usahakan agar jangan sampai tertidur. Caranya, mata saya harus terjaga agar tak terpejam. Saya tetap membuka mata, dan telinga harus tetap fokus mendengarkan uraian khotbah. 

Dok. Pribadi: Salah satu jemaah Jumat yang sedang memejamkan mata

Tadi, saat sang khatib sedang menyampaikan khotbah Jumat, lagi dan lagi saya menemukan orang yang tidur. Mungkin saya salah duga. Tapi, sesekali saya melihatnya saat ia duduk dengan mata terpejam, ia hampir jatuh di lantai masjid. Menurut saya, ini menandakan bahwa ia sedang berada dalam fase tidur. 

Ya, sudah, karena iseng, secara perlahan langsung saya mengeluarkan HP di dalam kantong celana. Saya foto ia secara diam-diam. (Mohon ini jangan ditiru). Dan, ketika khatib sudah turun dari mimbar dan semuanya hendak melakukan salat Jumat, saya perlihatkan ke dia foto tadi. Saya kira ia mau marah, eh tahunya ia malah tersenyum. []

Wallahu a'lam. 

Lereng Lareda, 9/12

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal