Buku Adalah Harta Karun Saya

|Gunawan|

Pada 2016 lalu, banjir bandang datang tak terbendung. Puluhan koleksi buku saya menjadi korban, terendam banjir. Akibatnya, buku-buku itu tidak bisa lagi dibaca. Sempat dijemur di bawah sinar matahari sampai kering. Namun, ukiran pena di berbagai buku yang dimaksud tetap saja tidak bisa dibaca seperti dulu. Ya, sudah, mau bagaimana lagi. 

Dulu, saat di tanah rantau, beberapa buku koleksi pribadi saya dipinjam oleh beberapa teman. Sebagian besar tidak kembali. Entah mereka lupa atau sengaja tidak mau mengembalikannya. Ya, sampai sekarang, beberapa buku yang dimaksud tidak pernah kembali kepada saya.

Saya masih ingat betul bahwa buku-buku tersebut saya beli dengan uang tabungan. Uang dari hasil nabung sedikit demi sedikit. Bahkan, saya sengaja menyisihkan uang makan demi membeli beberapa buku. Saya rela tidak membeli pakaian baru demi sebuah buku. Entah nekat atau gila, saya pernah menahan lapar demi membeli buku.

Dok. Pribadi: Beberapa koleksi buku di "Rumah Belajar Anak Tani"

Maka, ketika ada orang yang meminjam buku saya bertahun-tahun lamanya dan tidak mau mengembalikannya, saya benar-benar kecewa. Saya tidak pelit. Malahan saya senang bila ada orang lain yang mau membaca berbagai buku koleksi saya. Namun, bila sudah bertahun-tahun dipinjam dan dengan sengaja tidak mau mengembalikannya, saya kira wajar jika saya kesal. Sebab, tidak mudah saya membeli berbagai judul buku yang dimaksud. Ada sesuatu yang harus saya korbankan. 

Bagi saya, buku adalah salah satu "harta karun" saya. Sebuah buku amat bernilai di mata saya. Itulah salah satu alasan mengapa dulu saya suka mengoleksi buku. Dari buku saya banyak belajar. Dari buku juga saya mulai belajar menulis hingga melahirkan buku sendiri. []

Wallahu a'lam. 

Lereng Lareda, 6/12

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal