Bule dan Ngorok

|Gunawan|

Senang rasanya bisa sampai di Mataram dengan selamat. Meskipun memang perjalanannya begitu melelahkan. 

Malam perdana di Mataram pun tiba. Saya begadang. Lagi dan lagi, entah mengapa mata ini susah sekali untuk diajak terpejam. Di saat orang lain nyenyak, saya hanya duduk dan mata masih terjaga dari tidur. 

Tentu saja, saya tidak sendiri. Saya begadang bersama dengan beberapa orang. Di antaranya adalah dua orang bule. Cewek dan cowok. Keduanya sedang menemani temannya yang dirawat di rumah sakit. Sama seperti saya. 

Ada kejadian unik bin lucu saat bermalam di rumah sakit ini. Yakni, suara ngorok orang yang tidur di luar ruangan. Ada dua orang yang ngorok. Lucunya lagi, mereka saling bersahutan.

Sumber gambar: WowKeren.com

Orang-orang yang mendengarnya ketawa. Saya suruh mereka merekam kejadian itu, tambah kencang ketawa mereka. 

Suara ngoroknya lumayan berisik. Sampai si bule cewek pun sempat tutup kuping. 

"Berisik sekali," kata bule cewek sembari menempelkan kedua tangannya di kupingnya. 

"Sabar, Mbak. Beginilah salah satu bentuk kearifan lokal bangsa kami. Ngoroknya keren lagi unik," ucap saya. Mendengar ucapan saya tersebut, Mbak bule itu tersenyum ramah. 

Tentu, percakapan antara saya dan si bule tersebut pakai bahasa Inggris, ya. Hanya saja, saya nggak berani menuliskannya pakai bahasa Inggris. Saya takut di-bully. Soalnya, bahasa Inggris saya pas-pasan. 

Pokoknya, inti percakapan saya dengan si bule cewek tersebut seperti itu. Percaya, tidak? Jika tidak percaya, anggap saja ini sebagai karangan atau tulisan fiksi. 

Udah, itu aja. Capek ngetiknya. Ditambah lagi saya belum sarapan. Jadi kebayang 'kan gimana lemasnya saya di suasana pagi yang mendung ini? []

Wallahu a'lam. 

RSUD Kota Mataram, 29/12

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal