Dikira 20-an Tahun

|Gunawan|

Dia datang melangkahkan kakinya dengan lembut. Lirikan matanya sungguh aduhai. Senyuman manisnya masih terbayang nyata sampai kini. 

Perjumpaan saya dengannya tidak termasuk dalam rencana saya. Karena saya dengan dia tidak punya hubungan apa-apa. Bukan teman. Apalagi lebih dari teman, sama sekali bukan. 

Saya hanya penunggu atau penjaga pasien. Sementara, dia bertugas untuk merawat pasien yang saya jaga. 

Saya perhatian, dia begitu profesional menjalankan tugasnya. Bekerja dengan hati. Melayani sepenuh hati. Kalau saya ada di posisinya, mungkin saya tak akan mampu seperti dia. 

Tiba-tiba, dia menyapa saya. Menanyakan tentang ini dan itu. 

"Mas, usianya berapa sekarang?" tanyanya penasaran. 

"Cobak tebak berapa ayo!" 

"Kalau dilihat dari raut wajahnya, Mas usianya kisaran 20-an tahun."

Mendengar itu, saya senyum aja. "Terima kasih karena sudah menganggap saya jauh lebih muda, Mbak," kata saya sambil tersenyum ramah kepadanya. 

Dok. Pribadi: Suatu waktu di Pelabuhan (Makassar) 

Setelah saya kasih tahu usia saya yang sesungguhnya, dia bilang bohong. Dia sama sekali nggak percaya. Katanya, saya seperti orang yang baru tamat sekolah. Atau, paling mentok tiga tahun setelah tamat SMA. 

Saya nggak mau berdebat panjang. Apalagi kalau berdebatnya dengan 'makhluk halus' yang satu ini, saya tak akan pernah menang. Ya, sudah, saya terima saja kalau dia bilang usia saya 20-an tahun dan masih imut lagi menggemaskan. 

Harus saya akui, bukan kali ini saja saya dibilang imut dan usia masih muda. Saat ke suatu acara di Pulau Sulawesi tahun lalu, saya juga dibilang begitu. Bahkan, ada yang mengira kalau saya ini adik kelas mereka. Padahal, yang sesungguhnya tidak demikian. Namun, saat dibilang begitu, saya terima saja.

Begitu pula saat saya menghadiri sebuah acara di Dompu. Ada yang mengatakan kalau saya ini imut dan awet muda. Ya, memang saya masih muda, sih. Mereka tidak pernah percaya ketika saya menyebut usia saya yang sesungguhnya. []

Wallahu a'lam. 

RSUD Kota Mataram, 30/12

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal