Emak-emak, Piala Dunia, Hiburan, dan Luka
|Gunawan|
Pagi ini, awalnya terlihat cahaya mentari. Cerah. Namun, beberapa saat kemudian, segumpal awan datang dan menyelimuti sang surya. Mendung pun menyapa. Dingin terasa. Ada apa gerangan? Dari cerah, lalu mendung. Mungkinkah gara-gara para emak-emak sedang tak keruan pagi ini dan banyak yang ngambek? Mungkinkah karena para emak-emak ngamuk di media sosial gara-gara Eby Bima tidak mendapatkan juara satu dalam ajang DA5? 😁😇
Ya, pagi ini, ketika membuka Facebook dan juga WhatsApp, status teman-teman perempuan dan para emak-emak hanya ada satu, yakni kekecewaan. Sepertinya, mereka penuh dengan luka. Bahkan, beberapa di antaranya ada juga yang meneteskan air mata (tentu pakai emotikon menangis: 😭😭). Karena merasa kecewa dan sang idolanya tidak mengangkat trofi juara satu, saya takutnya para emak-emak itu tidak masak pagi dan ikutan ngambek (dan ngamuk) ke suaminya masing-masing. Ups. 😁
Sudah, sudah. Saya tidak mau lagi bahas "makhluk halus" yang satu ini. Saya takut ikut diserang dan menjadi "santapan" pagi oleh para makhluk berdaster ini. Entar saya apes dan kena imbasnya juga. Mending saya bahas kaum bapak-bapak saja. Biar adil juga. 😁
Baiklah. Saat ini, di kampung saya, kaum bapak-bapak juga punya cerita tersendiri. Mereka ikut meramaikan, menonton pesta sepak bola dunia yang diadakan sekali dalam empat tahun. Setiap orang punya jagoannya masing-masing.
Saking hobinya, di awal-awal pertandingan dulu (fase grup), beberapa di antara mereka ada yang secara "terpaksa" meninggalkan ladang jagungnya. Ada yang rela tidak tidur menjaga tanaman jagungnya yang baru ditanam dari serangan babi hutan. Bahkan, ada yang rela begadang sampai pagi.
Bagi kami yang tinggal di kampung, khususnya kaum Adam, sepak bola itu semacam hiburan. Menjadi salah satu ajang silaturahmi juga. Saling bercanda ria dan berbagi tawa bersama. Sepak bola, bagi kami, itu menyatukan. Meskipun negara yang dijagokan berbeda-beda, tapi tetap bisa akur dan saling berbagi canda tawa bersama.
| Dok. Pribadi: Suatu malam saat menonton bersama Fifa Word Cup |
Sebelas duabelas dengan para emak-emak yang kecewa gara-gara si Eby Bima tidak dapat trofi juara satu di ajang DA5, dalam ajang piala dunia kali ini juga, tidak sedikit kaum Adam yang merasa kecewa lantaran jagoannya masing-masing tersingkir. Yang lebih kecewa dan menyakitkan lagi adalah karena disingkirkan oleh negara yang awalnya tidak banyak yang menjagokannya dan tak diduga-duga. Misalnya, di babak fase grup, Belgia dipecundangi oleh Maroko dengan skor 0-2. Lalu, tatkala Jepang mengalahkan Spanyol dengan skor 3-0, hingga akhirnya tim Spanyol harus angkat koper lantaran ditaklukkan oleh Maroko dengan skor 4-2 melalui drama adu penalti. Dan, yang lebih menyakitkan lagi bagi para pendukung Portugal adalah karena jagoannya harus menelan pil pahit gara-gara dikalahkan oleh kesebelasan Maroko dengan skor tipis (1-0). Sama juga dengan Brasil yang harus tersingkir gara-gara dikalahkan oleh tim Kroasia.
Hanya saja, meskipun negara-negara yang dijagokan masing-masing tersingkir dan harus pulang kampung, kekecewaan kaum bapak-bapak tidak seheboh dengan kaum emak-emak. Kaum bapak-bapak masih bisa tersenyum dan bercanda bersama. Karena bagi kaum bapak-bapak, dunia sepak bola itu sekadar hiburan semata. Mungkin di media sosial ada banyak yang kecewa bahkan sampai marah gara-gara negara yang didukungnya cepat sekali angkat koper, tapi di dunia nyata masih tetap bisa tersenyum dan bercanda ria.
Terkadang, kekecewaan dan luka itu hadir menyapa kita. Bahkan, boleh jadi sampai meneteskan air mata. Itu adalah hal yang wajar. Dan, pasti pernah dialami oleh makhluk yang bernama manusia. Tapi, di balik luka dan air mata itu, ada pelajaran berharga dan hikmah yang bisa kita ambil. Percayalah, akan ada bahagia setelah luka. Akan ada senyum ceria setelah tetesan air mata duka. Nikmati saja hidup ini. Dan, syukuri apa yang telah dan sedang terjadi. Selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa yang menyapa kita. []
Wallahu a'lam.
Lereng Lareda, 13/12
Komentar
Posting Komentar