Jainuddin, Berorganisasi, Membaca, dan Menulis

|Gunawan|

Orangnya sederhana. Punya kepedulian kepada sama. Semangat belajarnya juga luar biasa dan patut diacungi jempol.

Baru beberapa tahun ini saya mengenalnya. Karena saya lama di perantauan. Juga karena memang saya dengannya beda generasi. Meski begitu, saya senang dan bersyukur bisa mengenal anak muda yang berambut ikal ini.

Jainuddin namanya. Seorang pemuda yang begitu bersemangat dalam berorganisasi. Sejak usia sekolah, jiwa organisasinya sudah mulai kelihatan. Ia bergabung dalam kepengurusan OSIS. Selain itu, bersama dengan beberapa temannya ia membentuk sebuah komunitas yang diberi nama Generasi Muda Indonesia (GMI).

Lelaki yang sedang melanjutkan studi di salah satu perguruan tinggi swasta di Bima ini suka membaca. Membaca buku, salah satunya. Buku apa saja ia baca. Entah itu buku nonfiksi maupun buku fiksi.

Saat menghadiri acara bincang buku suatu waktu, saya menghadiahinya sebuah buku tipis. Tebalnya hanya 60 halaman saja. Sebuah buku sederhana yang berjudul "Catatan Receh di Bawah Langit Sulawesi". Buku ini merupakan satu di antara tiga judul buku yang lahir dari hasil pengembaraan saya selama tiga bulan di tiga pulau.

Dok. Pribadi: Jainuddin saat berkunjung ke rumah, membeli dua buku saya

Untuk menambah koleksi bacaannya, belum lama ini ia membeli dua buku karya saya. Novel "Setitik Luka" dan buku "Bagaimana dan Mengapa Saya Menulis Buku?". Baginya, membaca buku itu memiliki kenikmatan tersendiri.

Di samping membaca, ia juga sedang berusaha belajar menulis. Sejauh yang saya ketahui, ada banyak tulisan yang ia hasilkan. Sebagian besar yang saya baca adalah berisi catatan sederhana lagi pendek.

Untuk mengasah kemampuan menulisnya itu, ia bergabung di sebuah grup menulis berbasis WhatsApp. Dulu, dia rajin membuat tulisan dan membagikannya di grup tersebut.

Saat bertemu dengannya belum lama ini, saya menyampaikan beberapa hal kepadanya. Salah satunya memantik dia agar tetap dan terus belajar merangkai kata. Agar dia tetap semangat untuk menulis. Menulis sedikit demi sedikit.

Dia juga berkeinginan untuk menulis atau menelurkan buku sendiri. Saya senang mendengarnya. Saya percaya, dia sangat bisa mewujudkan keinginannya tersebut. Apalagi, katanya, sudah banyak tabungan tulisan yang ia simpan. Tinggal ditambah beberapa tulisan lagi. Artinya, mimpi menelurkan buku sendiri akan segera terealisasi. Semoga. []

Wallahu a'lam.

Lereng Lareda, 26-27/12

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal