Kau Telah Pergi untuk Selamanya
|Gunawan|
Pada kenyataannya memang tidak ada yang benar-benar abadi.
Bila ada perjumpaan, maka akan ada perpisahan.
Bila hari ini kita berkawan bahagia, boleh jadi esok harinya kita akan berteman duka.
Saat pertama kau hadir, sungguh senang dan bahagia sekali hati ini.
Menjalani hari-hari sepenuh hati.
Kau adalah pelipur laraku.
Kau adalah penyemangatku.
Segala bentuk persoalan hidup menjadi mudah dikerjakan, karena ada kamu.
Kini, tak menyangka kau begitu cepat berlalu meninggalkanku.
Padahal, baru kemarin kau berucap bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Bahwa semuanya akan kita lalui bersama, apa pun yang terjadi.
Pada kenyataannya memang tidak ada yang benar-benar abadi.
Bila ada perjumpaan, maka akan ada perpisahan.
Bila hari ini kita berkawan bahagia, boleh jadi esok harinya kita akan berteman duka.
Saat pertama kau hadir, sungguh senang dan bahagia sekali hati ini.
Menjalani hari-hari sepenuh hati.
Kau adalah pelipur laraku.
Kau adalah penyemangatku.
Segala bentuk persoalan hidup menjadi mudah dikerjakan, karena ada kamu.
Kini, tak menyangka kau begitu cepat berlalu meninggalkanku.
Padahal, baru kemarin kau berucap bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Bahwa semuanya akan kita lalui bersama, apa pun yang terjadi.
![]() |
| Dok. Pribadi: Salah satu buku saya |
Dalam sekejap kau membuat semuanya berlinang air mata.
Tiba-tiba kau sirna ditelan bumi.
Tiba-tiba kau membuatku tak berdaya, berkawan duka.
Tidak ada lagi yang menemani.
Tidak ada lagi pelipur lara.
Tidak ada lagi yang berbagi cerita dan menghibur diri ini.
Setelah sekian lama mewarnai hidupku, kini kau telah pergi untuk selamanya.
Dan tidak akan mungkin bisa kembali lagi.
Kau pergi dengan senyum ramah, sementara aku di sini harus mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi.
Wallahu a'lam.
Tiba-tiba kau sirna ditelan bumi.
Tiba-tiba kau membuatku tak berdaya, berkawan duka.
Tidak ada lagi yang menemani.
Tidak ada lagi pelipur lara.
Tidak ada lagi yang berbagi cerita dan menghibur diri ini.
Setelah sekian lama mewarnai hidupku, kini kau telah pergi untuk selamanya.
Dan tidak akan mungkin bisa kembali lagi.
Kau pergi dengan senyum ramah, sementara aku di sini harus mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi.
Wallahu a'lam.
Lereng Lareda, 24/12

Komentar
Posting Komentar