Kaum Bapak-bapak vs Kaum Emak-emak

|Gunawan|

Usai sudah perhelatan Piala Dunia 2022. Pertandingan demi pertandingan penuh perjuangan. Semua tim mengeluarkan kekuatannya masing-masing. Kejutan demi kejutan pun terjadi. Ada yang tertawa bahagia. Ada pula yang menangis lagi berselimut luka. 

Sejak malam pembukaan dan laga pembuka antara Qatar melawan Ekuador, saya ikut nonton. Memang, tidak semua pertandingan saya saksikan. Alias, ada beberapa pertandingan yang saya lewatkan. 

Beberapa pertandingan saya saksikan lewat layar HP. Beberapa pertandingan yang lain saya saksikan di media televisi dan nonton bareng di layar lebar. 

Seperti jamak diketahui, dunia sepak bola rupanya menjadi milik kaum bapak-bapak. Terutama, di kampung tempat saya tinggal. Bagaimana tidak? Di tempat nonton tidak pernah saya melihat kaum emak-emak yang ikut menonton.

Beda halnya ketika Eby Bima tampil di DA5. Untuk acara ini, kaum emak-emak nyaris tak pernah ketinggalan. Sementara, kaum bapak-bapak hanya beberapa orang saja yang suka. Ketika usai menonton, di pagi harinya kaum emak-emak juga selalu membicarakan DA5, tak terkecuali ketika berada di ladang. Tidaklah berlebihan jika saya mengatakan bahwa di acara seperti ini (di kampung saya), kaum bapak-bapak boleh dibilang sebagai pelengkap saja. Sang juaranya adalah makhluk berdaster, alias kaum emak-emak. 

Mari kembali ke dunia sepak bola. Usai menyaksikan laga final Argentina kontra Prancis, dunia maya atau media sosial begitu ramai. Ada ungkapan bahagia. Ada pula ungkapan kekecewaan, terutama bagi beberapa pendukung yang kalah. Tak ketinggalan juga status media sosial kaum emak-emak. 

Dok. Pribadi: Suasana saat nonton bareng laga final antara Argentina vs Prancis

Nah, status media sosial kaum emak-emak ini yang menarik perhatian saya. Beberapa sahabat maya saya (dari kaum emak-emak) merasa kalau malam memperebutkan trofi juara satu ini merupakan malam yang apes bagi mereka. Ada yang terganggu tidurnya. Ada yang kaget dan tiba-tiba terbangun dari tidurnya gara-gara mendengar suara teriakan dari kaum bapak-bapak. 

Jika kedua tim (Argentina dan Prancis) harus mati-matian bermain untuk mendapatkan posisi nomor satu di kancah internasional, maka kaum bapak-bapak harus sabar mendengar omelan kaum emak-emak gara-gara berisik. Ya, bersabar saja dulu menghadapi "makhluk halus" yang ini. Biarkan kaum emak-emak mengomel seperlunya. Entar akan diam sendiri juga. Dan juga, pertandingannya 'kan sudah berakhir. Dengan demikian, di malam-malam selanjutnya, mereka tidak akan bisa lagi mendengar kaum bapak-bapak yang teriak kegirangan lantaran jagoannya masing-masing menang.

Semoga kaum bapak-bapak tetap bisa menikmati jamuan makan pagi, makan siang, dan makan sore (khusus untuk hari ini) dari kaum emak-emak. Soalnya, saya takut jika kaum emak-emak kelamaan ngambeknya gara-gara tidur malamnya terganggu akibat kehebohan (teriakan) dari kaum bapak-bapak. Mohon jangan sampai urusan dapur dan perut jadi ikut terseret juga, ya, Emak-emak. Kasihan kaum bapak-bapak kalau kelaparan. 'Kan yang repot juga nantinya adalah kaum emak-emak sendiri. Betul, tidak? []

Wallahu a'lam. 

Lereng Lareda, 19/12

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal