Kesetiaan Seorang Istri

|Gunawan|

Awalnya saya ragu menulis catatan yang satu ini. Bukan apa-apa. Saya sadar diri saja. Sebab, saya masih setia dengan bayangan sendiri. Takutnya salah menilai juga. 

Tapi, setelah dipikir-pikir, nggak ada salahnya juga saya menuliskannya. Minimal sebagai catatan kenangan atas apa yang saya lihat dan saksikan di lingkungan sekitar. 

Baiklah. Saya mulai saja. Mohon jangan di-bully, ya. Sebab, yang menulis ini adalah statusnya masih sendiri. Belum punya istri.

Begini. Saya meyakini bahwa di balik kesuksesan seorang suami, ada peran serta seorang istri di dalamnya. Baik itu ikut terlibat secara langsung, memberikan semangat, hingga mendoakannya. Sungguh naif bila seorang suami mengenyampingkan peran serta istri dalam kesuksesannya.

Tidak hanya tentang persoalan kesuksesan seorang suami. Ketika seorang suami mengalami sebuah masalah, sakit, misalnya, seorang istri juga akan turut menemaninya.

Saya sering melihat langsung dan juga mendengar cerita tentang kesetiaan seorang istri. Ia selalu setia menemani suaminya. Baik itu di kala suka maupun duka. Baik itu di saat berselimut bahagia maupun tatkala berbalut luka dan air mata. 

Sumber gambar: Republika.co.id

Mama saya, misalnya. Beliau adalah sosok istri yang begitu setia mendampingi suaminya. Apa-apa mereka melaluinya berdua. Keduanya saling menyemangati. Menjalani hidup sepenuh hati. 

Bila Papa meneteskan air mata, Mama saya juga ikut meneteskan air mata. Mama tak rela bila Papa menanggung derita sendirian. Apa pun yang dirasakan oleh Papa, Mama juga ikut merasakannya. Pernah keduanya menangis bersama-sama saat menghadapi sebuah persoalan hidup. 

Saat ini, saya menemukan cerita yang serupa. Ada seorang istri yang begitu setia menemani suaminya. Saat suaminya sakit parah dan harus dirawat di rumah sakit, ia tak pernah meninggalkan suaminya. Ia selalu berada di samping suaminya. Menemaninya sepenuh hati. 

Ketulusannya menemani suaminya begitu luar biasa. Tidak ada kata mengeluh dalam dirinya. Apa pun itu, ia jalani sepenuh hati. Tak jarang ia menyembunyikan air matanya. Bila sakit yang diderita oleh suaminya itu bisa dibagi, mungkin sang istrinya akan rela menanggungnya juga. []

Wallahu a'lam.

Selat Lombok, 28/12

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal