Lotus

|Gunawan|

Saya kuliah di kampus 1 UINAM. Sebuah kampus yang terletak di Jalan Sultan Alauddin Nomor 63 Makassar. Di depan ada toko buku Toha Putra. Di belakang kampus berjejer kos-kosan. 

Selama kuliah, beberapa kali saya pindah kos-kosan. Nyaris sepuluh kali. Ada alasan tertentu mengapa saya sering pindah kos.

Kos awalnya agak jauh dari kampus. Terus pindah. Saya kemudian dapat kos yang tidak terlalu jauh dari kampus tempat saya kuliah. 

Bagi yang nge-kos di belakang kampus, biasanya ada jalan (gang) sebagai alternatif untuk menuju kampus. Ada di samping kiri dan kanan kampus. Kedua jalan ini pernah saya lewati. 

Salah satunya adalah "Lotus". Ini bukan nama penerbit buku. Ini adalah sebuah gang. Orang di Makassar menyebutnya lorong. 

Lotus merupakan singkatan dari Lorong Tikus. Itu yang saya dengar dari orang-orang di sekitar situ. Saya tidak tahu alasannya mengapa dinamakan lorong tikus. Apakah karena dulu ada banyak tikus yang sering lewat di situ? Entahlah. 

Ya, ketika tinggal di belakang kampus, lorong ini sering menjadi alternatif saya untuk menuju ke kampus. Jalan kaki bersama anak-anak kos yang lainnya. 

Orang-orang yang memilih jalan melewati Lotus kala itu ada banyak. Selalu ramai. Terutama, bagi orang-orang yang kuliah di UINAM. Dari pagi sampai malam, lorong ini selalu ramai. 

Dok. Pribadi: Saat melewati Lotus sepulang dari Jumatan di masjid kampus

Lorong atau gang ini sebenarnya tidak terlalu besar. Tapi, cukuplah buat jalan dua arah, saling berpapasan dengan pejalan lain. 

Tahun lalu saya kembali menyapa Makassar. Saat pulang Jumatan di masjid Kampus 1 UINAM, saya memilih pulang lewat Lotus ini. 

Saat pulang Jumatan tersebut, saya perhatikan, tempat ini (Lotus) masih terlihat kayak dulu. Hanya saja, tidak lagi seramai dulu. Bahkan, amat sepi. Mungkin karena tempat kuliah mahasiswa UINAM sudah pindah di kampus 2 yang terletak di Kabupaten Gowa. Sehingga, berkuranglah orang-orang yang melewati lorong itu. Entahlah. []

Wallahu a'lam. 

Lereng Lareda, 9/12

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal