Mefo

|Gunawan|

Cuaca pagi begitu adem. Angin sepoi-sepoi yang menghampiri menambah kesejukan pagi hari. 

Saya, ipar, dan adik saya berencana menelusuri sungai. Lebih tepatnya, ingin mencari sayur-sayuran yang terdapat di sisi sungai. Sayuran paku/pakis, inilah yang akan kami cari. 

Perjalanannya pun dimulai. Kami melewati jalan setapak dan hutan. Karena melewati hutan, tentu saja menambah kesejukan pagi. 

Di kampung kami memang ada banyak jenis sayuran yang tumbuh liar. Tentu, ini adalah suatu kenikmatan tersendiri bagi kami yang hidup di kampung dan di sekitar pegunungan. 

Ya, untuk keperluan sayur-sayuran, boleh dibilang selalu terpenuhi setiap harinya. Yang penting ada keinginan untuk mencarinya dan bisa melangkahkan kaki, beberapa jenis sayur-sayuran bisa didapat. 

Saat pergi memetik atau mengambil sayuran pakis di area sungai, saya melihat juga sayuran jenis lain. Sayur "mefo" salah satunya. Mohon maaf, saya tidak tahu apa bahasa Indonesia-nya. Namun, orang di kampung saya menyebutnya "mefo".

Dok. Pribadi: Daun "mefo" yang saya petik di pinggir sungai

Sayuran jenis ini biasanya tumbuh di beberapa titik. Ada di hutan, di pinggir sungai, dan di beberapa tempat lainnya. Dulu, saya sering menemukan sayuran jenis "mefo" ini di kebun. 

Biasanya yang diambil untuk dijadikan sayur adalah daunnya yang masih hijau dan segar. Ada yang daunnya besar dan lebar. Ada juga yang ukuran kecil. 

Saya suka dengan sayuran jenis ini. Dulu waktu usia sekolah, saya sering mengonsumsi sayur "mefo" ini. Bagi saya, enak dan nikmat. Aroma khasnya juga nyaman di hidung. Apalagi saat dipetik, aromanya khas. Sulit saya jelaskan dengan kata-kata. 

Saat merebusnya, sayur "mefo" bisa dicampur dengan sayuran jenis lain. Bisa dicampur dengan "manura" dan beberapa jenis sayuran lainnya. Tergantung selera. Dan, lebih enak kalau dimakan pada saat masih hangat. Boleh dicoba bagi yang belum pernah menikmatinya. []

Wallahu a'lam. 

Lereng Lareda, 23/12

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal