Membaca dan Menulis Buku Biografi
|Gunawan|
Sejak menginjakkan kaki di Kota Daeng, saya mulai suka membaca. Saat itu ada tiga jenis bahan bacaan yang biasa saya baca. Ketiganya adalah buku, koran, dan buletin.
Kalau buku, biasanya saya baca di perpustakaan, di toko buku, atau di kos-kosan. Sementara, koran, biasanya saya sengaja beli di pagi hari usai pulang dari lari atau olahraga pagi, lalu dibaca di kos-kosan. Untuk buletin, biasanya saya dapatkan di masjid (di masjid dekat kos-kosan dan masjid kampus), terutama saat Jumatan.
Tidak mudah memang membiasakan diri untuk membaca. Khusus untuk membaca buku, awalnya agak berat. Namun, seiring berjalannya waktu dan terus "dipaksa", akhirnya terbiasa juga.
Salah satu buku yang saya suka baca adalah buku biografi. Tentang kisah perjalanan hidup tokoh-tokoh. Juga jejak perjalanan para penulis.
| Dok. Pribadi: Salah satu buku biografi tokoh koleksi saya di perpustakaan pribadi |
Buku biografi semacam ini relatif mudah dipahami. Tulisannya renyah dan mengalir. Ditulis menggunakan bahasa populer. Teknik penulisannya seringnya menggunakan gaya bercerita.
Ada beberapa koleksi buku biografi di perpustakaan pribadi saya. Seingat saya, sebagian besar sudah saya baca hingga tuntas. Yang lainnya hanya di bagian-bagian tertentu saja saya baca.
Karena tulisannya relatif mudah dimengerti dan memakai gaya bercerita, kadang sekali baca langsung tuntas. Untuk buku biografi yang jumlah halamannya di atas dua ratus, biasanya membutuhkan waktu yang agak lama untuk membacanya sampai tuntas.
Di saat-saat tertentu, untuk buku biografi tersebut, saya biasanya baca per bagian. Bacanya nyicil, sedikit demi sedikit. Tidak punya target khusus kapan mau diselesaikan. Jika bisa khatam, ya, syukur. Jika tidak bisa tuntas sampai akhir, ya, nggak apa-apa. Yang penting, tetap meluangkan waktu untuk membaca, dan dari membaca itu ada manfaat yang bisa didapat--langsung atau tidak langsung.
Saya sendiri, beberapa tahun terakhir ini, sedang belajar menulis buku biografi. Lebih tepatnya, mini biografi. Berisi serpihan atau kepingan perjalanan hidup orang-orang terdekat saya, dan beberapa orang lain yang saya kenal. Ada yang sudah diterbitkan menjadi buku. Ada juga yang masih dalam tahap penulisan.
Cara saya menuliskannya juga sederhana saja. Tidak punya target khusus pula. Maklum, masih amatiran. Masih terus belajar. Jika terlintas di pikiran cerita atau kisah yang ingin ditulis, ya, langsung nulis saja. Pun saya tidak pernah membuat kerangka tulisan (outline). Saya langsung menulis apa adanya dan mengalir begitu saja. []
Wallahu a'lam.
Lereng Lareda, 7/12
Komentar
Posting Komentar