Memburu Takjil
|Gunawan|
Saat-saat yang paling dirindukan oleh anak rantau seperti saya, salah satunya adalah ketika Ramadan tiba. Saat seperti ini, saya merindukan kampung halaman. Saya merindukan masakan Ibu. Saya merindukan berkumpul bersama keluarga, lalu menikmati sahur dan buka puasa bersama di rumah.
Berbicara masalah menikmati bulan Ramadan di tanah rantau, tentu saja mengandung cerita tersendiri. Ada banyak cerita yang terukir. Termasuk, perihal memburu makanan untuk berbuka puasa. Atau, biasa disebut dengan memburu takjil.
Saya juga begitu. Saat di Makassar, ketika hendak berbuka puasa, acap kali saya mengunjungi masjid terdekat. Biasanya, di masjid yang dimaksud menyediakan menu untuk buka puasa bersama. Minimal akan disediakan makanan ringan dan minuman. Gratis.
Menurut saya, jika disediakan begitu, berarti untuk dinikmati bersama dan oleh kalangan umum. Maka, sayang rasanya jika menu buka puasa yang disediakan itu tidak dinikmati. Mubazir kalau tidak dimakan. Kasihan juga para panitia yang sudah bersusah payah meluangkan waktu demi menyediakan takjil tersebut. Dan, kasihan juga dengan para hamba Tuhan yang telah membuat atau membeli makanan siap saji itu jika tidak ada yang menikmati atau memakannya. 😁
Menariknya lagi, di setiap masjid yang saya kunjungi, selalu ada menu buka puasa yang tersedia. Juga selalu banyak orang yang menyantapnya. Ada anak-anak. Ada bapak-bapak. Tak sedikit juga dari kalangan anak kos-kosan seperti saya.
| Sumber gambar: Kompas.com |
Salah satu kebiasaan saya juga ketika Ramadan di perantauan adalah mencari masjid yang menyediakan makanan berat, semacam nasi kotak (nasi plus ayam). Sebelum waktu berbuka tiba, saya sudah beranjak ke masjid yang dimaksud. Kadang bersama teman. Kadang juga sendiri. Sebelum makan nasi, biasanya menikmati berbagai ragam kue dulu. Seringnya, nasi kotak tersebut dimakan usai salat Magrib.
Oh, ya, di kos-kosan sebenarnya sudah masak. Tapi, entah mengapa langkah kaki ini selalu ingin ke masjid yang menyediakan makanan berat. Sampai dapat. 😁🤭 Akibatnya, menu buka puasa yang sudah dimasak atau disediakan di kos-kosan tadi, akhirnya dimakan saat sahur nanti.
Ya, begitulah serpihan cerita saya ketika berada di tanah rantau. Memburu takjil di masjid adalah salah satu yang saya lakukan. Ini adalah bagian dari cara saya menghargai kerja panitia dan para emak-emak yang sudah menyediakan berbagai menu buka puasa seperti yang dimaksud. Kasihan kalau tidak dibantu memakannya. Kan mubazir. 😁 []
Wallahu a'lam.
Lereng Lareda, 13/12
Komentar
Posting Komentar