Menulis: Antara Proses dan Hasil
|Gunawan|
Sebuah tulisan jangan hanya dilihat hasil akhirnya seperti apa. Tapi, yang jauh lebih penting dari itu adalah proses yang dilalui hingga tulisan itu bisa lahir.
Ada orang yang hanya melihat hasil akhir tulisan seseorang. Tanpa mau tahu bagaimana proses kreatif penulisannya. Tanpa mau tahu susah dan pahitnya mencipta sebuah karya.
Maka, saya selalu katakan, bahwa menghargai karya tulis seseorang itu penting sekali. Apa pun bentuk karya tulisnya, perlu dihargai. Apalagi buat para penulis pemula. Mereka itu butuh dorongan dan semangat dari luar juga. Agar mereka semakin berapi-api untuk memproduksi kata demi kata. Agar mereka terus mau belajar dan berbagi lewat dunia kata.
| Dok. Pribadi: Salah satu buku karya saya |
Saya pernah baca sebuah buku yang menurut saya sangat menarik. Sebuah buku yang isinya tidak biasa. Buku tersebut berkisah tentang perjuangan seseorang yang mengidap penyakit alexia (kebutaan kata). Sebuah penyakit yang memengaruhi kemampuan membaca seseorang: tak lagi bisa membaca rangkaian kata yang tertulis rapi.
Uniknya lagi, penyakit ini tidak memengaruhi kemampuan menulis seseorang. Dengan kata lain, untuk kemampuan menulisnya masih bisa. Hanya kemampuan membacanya saja yang hilang.
Lantas, dalam proses penyembuhan penyakit yang dideritanya tersebut, dia tetap berusaha untuk menulis. Menulis sedikit demi sedikit. Meski akhirnya, tulisannya itu juga tetap tidak mampu dia baca kembali. Aneh, kan? Tapi, begitulah kisah yang saya baca di buku tersebut.
Hemat kata, meski mengidap penyakit alexia tersebut, dia terus menyemangati dirinya sendiri untuk tetap menulis. Hingga akhirnya, tulisan-tulisannya itu disulapnya lagi menjadi buku terbit.
Nah, dari cerita singkat ini saja menegaskan bahwa proses mencipta sebuah tulisan atau buku itu tidak mudah. Butuh perjuangan esktra. Butuh pengorbanan nyata. Ada banyak hambatan yang turut menyertai, lalu berusaha disingkirkan sekuat tenaga agar tak lagi menghalangi dalam proses merangkai aksara dan kata.
Boleh jadi juga di saat proses melahirkan sebuah tulisan atau buku, seorang penulis tiba-tiba diputusin oleh pacarnya atau ditinggal nikah, misalnya. Nah, dalam kondisi seperti ini, tidak mudah untuk melanjutkan proses menulis sebuah karya tulis. Syukur-syukur kalau ia mampu mengatasinya hingga akhirnya tetap bisa melahirkan tulisan dan buku.
Ya, begitulah. Sebuah tulisan atau buku jangan hanya dilihat hasil akhirnya seperti apa. Coba pahami dan resapi juga bagaimana proses kreatif sang penulisnya dalam menghasilkan karya yang dimaksud. Dengan begitu, kita akan lebih menghargai lagi karya tulis yang ditulis/dikarang oleh seseorang. []
Wallahu a'lam.
Lereng Lareda, 7/12
Mantap
BalasHapusTerima kasih atas kunjungan dan komentarnya, Prof. 🙏🙏
Hapus