Meski Hanya Setitik

|Gunawan|

Kita dulu adalah sepasang insan yang tak henti-hentinya memuja dan memuji rindu. 
Hingga tak ada ruang untuk kata benci.
Cintalah yang selalu menyelimuti.
Hanya ada senyum ceria. 
Hanya ada bahagia. 

Dok. Pribadi: Tulisan saya dalam buku "Cinta dan Air Mata"

Rindu yang kita puja dan puji, kini hanyalah kenangan yang larut dan telah dibiarkan berlalu. 
Perlahan, cinta berubah jadi benci. 
Meski hanya setitik, luka itu memang telah menusuk hingga ke lubuk hati. 
Kini, senyum ceria dan bahagia hanyalah sebatas kata, tak lagi menemani dalam nyata. 

Wallahu a'lam. 

Lereng Lareda, 21/12

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal