Perjalanan, Menulis, dan Menerbitkan Buku
|Gunawan|
Saat ke Makassar tahun lalu, salah satu agenda saya adalah memenuhi undangan dari kawan-kawan di organisasi MATRIX SC. Saya diminta untuk ikut serta dalam kegiatan "MATRIX Care and Share" yang diadakan di Kabupaten Wajo selama 10 hari.
Beberapa hari sebelum berangkat, kepada pihak panitia penyelenggara, saya mengatakan bersedia untuk ikut terlibat dan mengawal kegiatan yang akan berlangsung tersebut. Kala itu, tebersit dalam pikiran saya untuk mengabadikan kepingan momen-momen perjalanan selama sepuluh hari itu menjadi tulisan dan juga buku.
Maka, sejak awal berangkat, di mobil saya mulai menulis sedikit demi sedikit. Mencoba menceritakan apa yang terjadi, yang dirasa, yang didengar, dan yang dialami. HP adalah alat atau media yang saya pakai untuk merangkai kata demi kata yang dimaksud.
Selama sepuluh hari perjalanan tersebut, ada banyak cerita yang tercipta. Ada banyak manfaat dan pelajaran yang saya dapatkan. Ada hikmah kehidupan yang saya peroleh. Tidak sia-sia. Semuanya penuh arti. Hingga akhirnya, tercipta dan terbitlah sebuah buku, yang kemudian saya beri judul "Sepuluh Hari Penuh Arti".
![]() |
| Dok. Pribadi: Salah satu buku yang saya tulis |
Apa yang saya lakukan ini adalah bagian dari ikhtiar saya untuk mengabadikan momen-momen perjalanan yang pernah dilalui. Agar membekas. Agar tidak lupa di kemudian hari. Agar ada yang bisa dibaca kembali. Di samping sebagai bagian dari upaya saya untuk terus mengasah kemampuan menulis.
Menulis perlu dilatih secara terus-menerus dan berkelanjutan. Bila perlu, harus dilakukan secara rutin setiap hari. Hanya dengan terus berlatih, kemampuan menulis seseorang akan berkembang. Termasuk menulis atau membukukan perihal jejak perjalanan yang pernah dilalui.
Jika tidak pernah ditulis, boleh jadi jejak perjalanan itu suatu saat akan kita lupa, bahkan mungkin sirna bersama embusan angin. Jika tidak pernah ditulis, lantas apa yang akan dibaca kembali di kemudian hari?
Di setiap perjalanan, ke mana pun kita melangkah pergi, selalu ada cerita yang tercipta. Cerita atau kisah itu boleh jadi bermanfaat buat orang lain yang tak pernah mengalaminya. Maka, menuliskan (membukukan) dan membagikannya ke publik bisa menjadi alternatif yang bisa dilakukan. Agar orang lain bisa mengambil manfaatnya. Agar orang lain bisa membacanya.
Ya, saya selalu berusaha untuk mengabadikan kepingan momen kehidupan yang pernah dilalui. Berusaha menuliskannya menjadi untaian kata dan kalimat--di samping mengambil gambar melalui kamera HP. Merangkainya sedikit demi sedikit. Lalu, jika memungkinkan, akan diterbitkan menjadi buku. Agar bisa dibaca oleh orang-orang, di mana mereka berada.
Ada beberapa buku saya yang lahir dari hasil perjalanan (singkat). Di samping buku "Sepuluh Hari Penuh Arti", ada juga dua buku lainnya. Di antaranya adalah "Catatan Receh di Bawah Langit Sulawesi", dan "Mencari Kisah". Ketiga buku tersebut merupakan oleh-oleh atau hasil perjalanan saya selama tiga bulan di tiga pulau yang berbeda. Tiga bulan, tiga pulau, tiga buku. Kira-kira begitu. []
Wallahu a'lam.
Lereng Lareda, 12/12

Komentar
Posting Komentar