Praktikum yang Berujung "Petaka"
|Gunawan|
Sejatinya, hidup ini penuh dengan cerita. Tak pernah sepi. Setiap hari, sadar atau tidak sadar, ada saja cerita atau kisah yang tercipta. Tanpa kita minta sekalipun, ia selalu setia hadir menemani keseharian kita. Ada cerita yang berujung bahagia dan penuh tawa. Tak jarang juga cerita atau kisah yang berakhir duka dan air mata. Keduanya itu pasti (pernah) dialami oleh manusia yang pernah singgah di bumi.
Saya adalah salah satu ciptaan Tuhan yang pernah berada di dua kondisi semacam itu. Pernah berada dalam fase bahagia dan senyum ceria. Pernah juga berada dalam fase luka dan tetesan air mata.
Suatu ketika, di semester awal kuliah, saya mendapatkan tiga mata kuliah yang ada praktikumnya. Ya, di samping teori (belajar di ruang kelas), ketiga mata kuliah itu juga mengharuskan untuk ikut praktikum (melakukan praktikum di laboratorium). Meskipun praktikumnya masing-masing hanya berbobot satu SKS saja, namun nilai praktikum sangat memengaruhi akan kelulusan seorang mahasiswa.
| Sumber gambar: www.chemistry.untan.ac.id |
Ketiga mata kuliah (praktikum) tersebut harus dijalani sekali seminggu. Dengan demikian, laporan mingguan harus juga ditulis dan di-ACC sekali seminggu. Belum lagi tugas tambahan lainnya, misalnya membuat "Tugas Pendahuluan" sebelum memulai praktikum atau masuk laboratorium. Tugas Pendahuluan ini sebagai prasyarat untuk bisa ikut praktikum.
Menjalani tiga praktikum sekali seminggu selama satu semester, bagi saya bukanlah pekerjaan yang mudah. Sungguh, berat terasa. Namun, mau bagaimana lagi? Semuanya harus dijalani dengan sungguh-sungguh.
Ada hal yang "unik". Tugas Pendahuluan dan juga Laporan Praktikum mingguan dari ketiga mata kuliah itu tidak ditulis/diketik menggunakan komputer. Ya, yang satu tulis tangan, sementara dua lainnya menggunakan mesin ketik.
Kalau tulis tangan, mungkin tidak terlalu berat bagi saya. Tapi, yang bermasalah adalah yang menggunakan mesin ketik. Sebab, saat itu, saya tidak akrab dengan mesin ketik. Untung saja, saya punya beberapa senior atau teman yang bersedia meminjami saya mesin ketiknya, dan juga mengajari saya bagaimana menggunakan mesin ketik tersebut.
Tiada hari tanpa suara mesin ketik. Juga tiada hari tanpa tulis tangan. Antara laporan praktikum mingguan yang ditulis tangan dan yang menggunakan mesin ketik, harus bersamaan selesai setiap minggunya. Begitu seterusnya selama satu semester berlangsung. Harus di-ACC. Jika tidak dapat ACC (plus) dari asisten lab, maka tidak bisa masuk lab dan ikut praktikum selanjutnya.
Untuk dua mata kuliah (praktikum) yang laporannya pakai mesin ketik, mampu saya dan lewati. Saya lulus. Sementara, untuk satu mata kuliah (praktikum), gara-gara tidak ikut satu kali pratikum, saya dinyatakan tidak lulus. Padahal, saat itu saya sudah minta izin. (Bahkan, saya sempat berantam dengan asisten lab-nya. Untungnya, dia itu cewek). Akibatnya, meskipun nilai teorinya (yang bobotnya 2 SKS) saya dapat A, namun karena tidak ikut satu kali praktikum dan tidak lulus (walau bobotnya hanya 1 SKS), di transkrip nilai saya tertulis T (tunda). Mau tidak mau, saya harus mengulang praktikum di semester tiga. Harus mengulang mulai dari awal lagi. Menjalani praktikum lagi. Dan, di semester akhir baru saya bisa dapat nilai di transkrip (setelah digabung dengan nilai teori) dari dosennya.
Selama menjalani praktikum dari ketiga mata kuliah tersebut, nyaris setiap malam saya tidak tidur. Kalaupun tidur di malamnya, paling maksimal hanya sampai satu setengah jam saja. Sebab, waktu malamnya dihabiskan untuk mengetik, menulis, dan mengerjakan berbagai tugas-tugas lainnya. Bahkan, makan pun tak teratur. Hanya air minum yang setia menemani di setiap malam tiba. Sungguh, berat sekali.
Bahkan, saya punya teman, yang ceritanya jauh lebih "unik" dan lucu lagi. Gara-gara praktikum yang dijalaninya, rambutnya rontok. Tanpa sadar, suatu ketika, saat ia mandi dan memakai sampo, rambutnya tiba-tiba rontok. Begitu terus ketika ia mandi dan memegang rambut di kepalanya, selalu saja rontok. Padahal, saat SMA, rambutnya baik-baik saja. Tidak pernah mengalami rontok terus-terusan dan sebanyak itu. Hanya saat menjalani praktikum itu rambutnya mulai permisi satu per satu meninggalkannya tanpa pamit.
Dia tidak mau berpikir panjang. Dia tak mau ambil pusing. Karena itu, dia memutuskan untuk tidak lagi mengikuti dua mata kuliah (praktikum). Ya, dari tiga mata kuliah (praktikum), hanya satu mata kuliah (praktikum) saja yang mampu dia jalani sampai tuntas. Akibatnya, dua mata kuliah (praktikum) yang lainnya, dia kembali ikut atau mengulang di semester tiga. Mungkin inilah yang dinamakan dengan praktikum yang berujung "petaka". Gara-gara praktikum, rambutnya rontok dan mulai permisi meninggalkannya satu per satu. []
Wallahu a'lam.
Lereng Lareda, 12/12
Komentar
Posting Komentar