Roni dan sang Nenek

|Gunawan|

Sebuah perkenalan singkat. Sama-sama bertugas menjaga pasien. Ia menemani neneknya yang sedang opname. Sementara, saya menemani salah satu keluarga besar saya. 

Ketika ia duduk seorang diri dan sedang melihat layar HP, saya menghampirinya. Lebih tepatnya, saya ingin duduk di kursi kosong yang ada di sampingnya. 

Saya menyapanya terlebih dahulu. Obrolan pun mengalir begitu saja. Saya menanyakan berbagai hal. Dari yang ringan hingga yang berat. Saya ingin menggali informasi darinya. Saat ia menjelaskan, saya menyimak dengan saksama. 

Karena saya orangnya penasaran, pertanyaan demi pertanyaan pun saya lontarkan. Anak muda yang bernama Roni tersebut juga menjawab berbagai pertanyaan saya dengan senang hati dan gamblang. 

Salah satu hal yang menarik dari obrolan tersebut tentang peran sertanya dalam merawat neneknya. Ternyata, ia begitu sayang kepada neneknya. Ia rela meninggalkan pekerjaannya untuk sementara waktu demi menemani sang nenek yang dirawat di rumah sakit. 

Hanya ia sendiri dari sekian banyak cucunya yang selalu setia menemani neneknya di kala sakit seperti ini. Ibunya sedang berada di Arab Saudi, menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI). Bibi-bibinya juga tinggal di luar negeri. Boleh dibilang, sang nenek tinggal bersama cucunya. Dirawat oleh cucunya. 

Dok. Pribadi: Suatu malam di sudut RSUD Kota Mataram

Malam itu kami berdua bercerita cukup banyak. Di saat ia bertanya, saya pun menjawabnya semampu saya. Meskipun topiknya beragam, pembicaraan pun tetap mengalir apa adanya. Dan, tidak sia-sia. 

Ternyata, ia juga merupakan salah seorang yang suka merantau. Ada beberapa daerah yang sudah ia kunjungi. Di setiap daerah yang ia kunjungi selalu ada cerita yang menarik. 

Sebagai seorang pengembara, ia sudah pasti menikmati asam garamnya kehidupan ini. Tidak hanya suka dan bahagianya yang ia peroleh, melainkan tak sedikit juga kesedihan dan air matanya. Hal inilah yang membuat dirinya tahan banting dan tak mudah putus asa. 

Berbagai pelajaran hidup yang diperoleh di tanah rantau adalah salah satu yang membuat dirinya berusaha meluangkan waktu untuk keluarganya tersendiri. Hal ini juga yang menjadi salah satu alasannya mengapa ia begitu dekat dan sayang kepada neneknya. 

Sekira jam tiga dini hari, saya dan Roni baru mengakhiri obrolan yang multitopik tersebut. Saya kembali ke kamar untuk mengontrol keadaan suami bibi. Begitu pun dengan Roni, ia juga kembali ke kamar di mana neneknya dirawat. 

Pada malam ini saya hanya tidur satu setengah jam. Untung saja saya sering minum air putih. Sehingga, tidak begitu loyo dan capek. Saat azan Subuh, saya bangun dan menuju Masjid Darussyifa untuk menunaikan salat Subuh secara berjemaah. []

Wallahu a'lam. 

RSUD Kota Mataram, 29/12

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal