Saya, Buku, dan Membaca

|Gunawan|

Seperti yang pernah saya uraikan di tulisan yang lain, saya mulai mengoleksi berbagai jenis buku adalah ketika merantau di Kota Makassar. Saya beli di beberapa toko buku. Juga saya beli di tempat bazar atau sejenisnya. Pernah pula saya beli langsung dari penulisnya. 

Saya beli atau mengoleksi berbagai buku tersebut, pastinya ada alasan. Bisa karena tugas kuliah. Dianjurkan oleh dosen. Juga karena ingin saja membeli dan mengoleksinya. 

Tentu saja, di kemudian hari buku-buku itu saya baca. Saya baca secara perlahan. Saya baca sedikit demi sedikit. Ada yang sampai tuntas. Ada juga yang saya baca hanya di bagian tertentu saja. 

Awalnya, jujur saja, agak berat memang membangun kebiasaan membaca buku. Tapi, karena sering melihat beberapa koleksi buku yang dibeli tersebut, rasa ingin membacanya mulai tumbuh dengan sendirinya. Dari dipaksa, bisa, dan terbiasa membaca. Kira-kira begitu. 

Saya punya prinsip, nggak apa-apa dibeli saja dulu bukunya, meskipun tidak langsung dibaca dalam waktu dekat. Toh, suatu saat, karena sering dilihat, akan dibaca juga. Dan, saya suda membuktikannya sendiri. Ada dulu bahan bacaan, baru kemudian mulai membaca sedikit demi sedikit. Sebaliknya, jika tidak tersedia bahan bacaan, lantas apa yang mau dibaca? Kecuali, membaca isi hati kamu, sih. Cielah. 

Saya pikir, tidak rugi juga mengoleksi berbagai jenis buku. Jika bukan kita sendiri yang mulai membacanya, maka yakinlah akan ada orang lain yang membacanya. Dan, ini terbukti. Ya, sering kali koleksi buku saya dipinjam dan dibaca oleh orang lain. Ini membuktikan bahwa mengoleksi berbagai jenis buku adalah bukan sebuah pekerjaan yang sia-sia. 

Sampai sejauh ini, saya masih berusaha untuk terus membaca (buku). Saya terus berupaya meluangkan waktu untuk membaca. Saya tidak punya target khusus, misalnya harus selesai berapa halaman dalam sekali baca. Yang penting, saya selalu berusaha meluangkan waktu untuk membaca tiap harinya, di mana pun berada, walau mungkin hanya membaca beberapa kalimat atau paragraf saja. Dan, saya telah menemukan kenikmatan dari aktivitas membaca itu sendiri. 

Dok. Pribadi: Salah satu buku saya yang terbit pada 2022

Jika dulu saya tidak pernah membeli buku dan juga membaca buku, mungkin sampai sekarang saya tidak akan pernah bisa menulis buku sendiri. Jangankan sampai melahirkan buku sendiri, menulis catatan sederhana ini juga barangkali tak akan pernah bisa, bilamana dulu saya tidak pernah membangun kebiasaan membaca buku. 

Di zaman sekarang, sejatinya tidak susah untuk mencari bahan bacaan. Jika tidak punya buku cetak, misalnya, kita bisa memanfaatkan media online untuk mengakses berbagai bahan bacaan. Di berbagai situs media daring tersebut, ada banyak sekali bahan bacaan. Mau baca buku elektronik (e-book), misalnya, tinggal cari saja di mesin pencari (misal, ketik kata kuncinya di Google). Hanya butuh Smartphone dan kuota internetan, berbagai buku elektronik yang diinginkan tersebut, langsung bisa kita nikmati. 

Tidak hanya buku elektronik. Yang suka baca berbagai tulisan atau artikel di berbagai media daring, ada banyak. Di website tertentu, ada. Di akun Facebook orang-orang tertentu dan Instagram, ada banyak tulisan yang bisa kita baca. Yang penting kita mau mencari dan membacanya. 

Saya sendiri, di samping membaca buku cetak, saya juga membaca berbagai bahan bacaan di media online. Saya memanfaatkan HP yang saya punya. Saya cari bahan bacaannya, lalu saya baca sedikit demi sedikit. Sampai sekarang, kebiasaan ini masih terus saya jalani: membaca. []

Wallahu a'lam. 

Lereng Lareda, 9/12

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal