Suara Azan di Tengah Malam

|Gunawan|

Saya biasanya tidur di atas jam sepuluh malam. Seringnya begitu. Hanya sesekali saya tidur di bawah jam sepuluh. 

Di waktu begadang seperti ini, saya manfaat waktu untuk bekerja. Orang masa kini menyebutnya bekerja dari rumah (work from home). Saya mengedit naskah buku orang-orang dari berbagai daerah. Ya, biasa, namanya juga jadi editor lepas. Ada saja naskah tulisan atau buku orang yang saya edit.

Di samping mengedit naskah semacam itu, saya juga manfaat waktu untuk menulis. Menulis catatan demi catatan. Menulis naskah buku: fiksi dan nonfiksi. Juga membaca artikel dan buku. 

Terkadang juga di malam hari saya menonton lewat HP. Nonton/dengar lagu. Nonton film. Nonton komedi. Juga nonton berbagai berita terkini. 

Suatu malam di saat sedang menulis, ada hal yang aneh. Saya mendengar suara azan. Saya bingung. Kok bisa ada suara orang yang azan di tengah malam, padahal belum tiba waktu salat lima waktu. Keras pula suaranya. 

Lucunya lagi, suara azan itu sampai selesai. Saya makin bingung. Ada apa gerangan? 

Setelah saya telusuri, ternyata Papa yang lagi ngigau. Ya, suara azan itu adalah bersumber dari Papa yang asik igau di tengah malam. 

Dok. Pribadi: Suatu malam di bawah langit Bumi Pajo

Pagi harinya, ngigau "unik" Papa tersebut langsung diceritakan kepada beliau. Mendengar cerita itu, Papa langsung tertawa.

Begitulah Papa, setiap malam selalu ada materi atau bahan ngingau. Nggak pernah habis. Kadang ngaji. Kadang teriak. Kadang umpatan atau makian. Kadang berkelahi. Dan lain-lain. 

Ngigau azan seperti ini sebenarnya bukan kali ini saja. Sebelumnya juga beberapa kali saya pernah dengar. Ketika diceritakan kembali kepada beliau atau kepada Mama pada pagi atau siang harinya, keduanya pasti tertawa. []

Wallahu a'lam. 

So Kempo, 25/12

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal