Tidak Lagi Seperti Dulu
|Gunawan|
Saya mendapatkan sebuah undangan. Saya diminta untuk menjadi pembicara atau pemantik dalam sebuah acara diskusi yang diadakan oleh sebuah organisasi tertentu.
Saya senang sekali. Lalu, saya penuhi undangan itu. Saya hadir lebih awal. Bahkan, jauh lebih awal. Saat saya tiba di tempat acara, belum ada seorang pun yang hadir. Belum ada panitia penyelenggara. Juga belum ada peserta diskusi.
Maklum, saya tiba di lokasi acara kegiatan sekira empat puluh lima menit sebelum acara berlangsung. Mungkin wajar bila belum ada satu orang pun yang muncul. Karena memang waktu dimulainya masih lama. Saya berusaha berpikir positif saja. Mungkin mereka akan hadir tepat seperti pada waktu yang tertera di undangan atau di rundown acara.
Waktu terus berputar. Saya terus menunggu. Menunggu dan terus menunggu. Hingga akhirnya, waktu yang dijadwalkan pun tiba. Lagi dan lagi, belum ada satu orang pun yang hadir. Namun, saya tetap sabar dan setia menunggu.
"Jangan-jangan saya salah tempat atau jam saya terlalu cepat berputar?" tanya saya dalam diri.
Saya kembali membuka surat undangan yang dikasih sebelumnya. Saya lihat atau baca ulang. Siapa tahu saya salah. Tidak, saya tidak salah. Waktu dan tempatnya sudah benar, kok.
![]() |
| Dok. Pribadi: Sebuah jam dinding di rumah |
Sepuluh menit telah berlalu. Belum ada satu orang pun yang hadir dan menyapa saya. Ya, sudah, mungkin acaranya nggak jadi. Lagi-lagi, saya berusaha berpikir positif saja.
Karena nggak ada seorang pun yang hadir, dan juga sudah lama menunggu, saya memutuskan untuk pulang atau meninggalkan lokasi acara tersebut. Sebab, sebentar lagi saya ada agenda lain yang harus dipenuhi juga.
Ketika saya pulang, saya berpapasan dengan beberapa panitia. Ada juga wajah baru yang saya lihat: mungkin peserta diskusi. Entahlah.
Mereka menyapa saya dan meminta maaf karena telat. Saya memaafkan mereka. Tapi, saya tetap dengan keputusan awal saya: pulang.
"Mohon maaf, saya ada acara di tempat lain juga yang harus saya hadiri. Silakan kalian lanjutkan sendiri acara diskusinya, ya. Lagian, kalian juga orangnya hebat-hebat dan super pintar. Jadi, tidak perlu lagi mendengar kata-kata receh dari saya yang bukan siapa-siapa ini," kata saya.
Saya pun pamit. Lalu, menuju ke tempat lain. Memenuhi undangan dari lembaga yang lain.
Di perjalanan saya berusaha merenungi apa yang baru saja terjadi. Zaman memang telah berubah. Antara zaman saya dulu dengan sekarang, jauh berbeda. Zaman sekarang, bagi mereka, terlambat itu mungkin hal yang biasa. Atau, mungkin sudah menjadi tradisi mereka. Tanpa merasa bersalah. Tanpa merasa malu.
Zaman telah berubah. Mungkin tidaklah elok jika saya membandingkan zaman saya dulu dengan sekarang. Mungkin, ya. Apalagi generasi sekarang katanya jauh lebih hebat dan jago. Tapi, soal waktu (perputaran jam), saya pikir, antara dulu dan sekarang sama saja. Atau, mungkin saya yang terlalu egois, yang ingin semuanya harus tepat waktu? Entahlah.
Yang jelas, saya adalah tipe orang yang takut jika terlambat datang ke sebuah acara, apa pun itu. Makanya, saya selalu berusaha untuk hadir lebih awal. Sampai kini, saya selalu berusaha dan terus membiasakan diri dengan hal semacam ini. Lebih baik saya yang menunggu daripada saya yang ditunggu. Saya takut. Saya malu jika terlambat. []
Wallahu a'lam.
Lereng Lareda, 20/12

Komentar
Posting Komentar