Ada Saatnya Kita Rapuh dan Patah

|Gunawan|

Seseorang yang tak pernah merasakan kehilangan, ia tak akan pernah tahu bagaimana perihnya hati atas suatu kehilangan itu. 
Hati tiba-tiba rapuh, patah, dan hancur berkeping-keping. 
Sudah berusaha menahan perih, namun tetap saja hati tak sanggup menahannya. 
Tiba-tiba sedih menyapa dan menangis sejadi-jadinya. 

Aku tahu itulah yang kau rasakan sekarang. 
Kau sedang berada dalam fase duka. 
Air mata yang membasahi pipimu tak mampu dibendung. 
Air mata itu terus saja mengalir semaunya, semampunya. 

Sumber gambar: cnnindonesia.com

Aku tahu bahwa kabar duka itu benar-benar membuatmu patah dan tak berdaya. 
Tak menyangka semuanya terjadi seperti itu. 
Kau tak kuasa menahan pilu. 
Padahal, yang kutahu, kau adalah orang yang begitu kuat, apa pun yang terjadi. 
Namun, kali ini, kau menjadi orang yang terlemah yang pernah kukenal. 

Aku mengerti atas apa yang kaurasakan kini. 
Sebab, aku juga pernah berada di posisi seperti ini. 
Bahwa memang ada saatnya kita tak bisa menahan pilu dan air mata. 
Ada saatnya kita rapuh dan patah. 
Ada saatnya kita lemah, tak berdaya. 

Wallahu a'lam. 

Lereng Lareda, 16/1

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal