Catatan Receh Dua Januari
|Gunawan|
Bunyi sirene ambulans terdengar setiap hari. Ada yang datang. Ada yang pergi. Orang-orang lalu-lalang. Ada yang gelisah. Ada yang meneteskan air mata.
Rumah sakit adalah tempat orang-orang mengobati dan menyembuhkan penyakitnya. Ada banyak ragam penyakit yang diderita oleh orang-orang itu. Ada yang ringan, sedang, dan serius (berat). Semua mendapatkan penanganan dan/atau perawatan sesuai dengan penyakit yang mereka derita.
Saya menyadari satu hal bahwa begitu pentingnya nikmat sehat itu. Sebab, kalau sudah sakit, segala rasa tak lagi sama. Tidur tak enak, makan pun tak nyenyak. Kalau sudah (sedang) sakit, tubuh tak lagi bisa melakukan aktivitas secara total seperti biasanya. Maka, selagi sehat harus bersyukur dan harus menjalani hidup dengan sepenuh hati.
Tiap hari, suara sirene ambulans selalu saja terdengar di telinga. Sungguh, sedih sekali rasanya. Apalagi, ketika mendengar kabar dari petugas rumah sakit bahwa ada orang yang meninggal. Nyawanya tak lagi tertolong.
Hidup di dunia memang hanya sesaat. Tidak untuk selama-lamanya. Ya, di dunia ini tidak ada yang benar-benar abadi, kecuali Yang Maha Abadi itu sendiri.
Saat di rumah sakit, tiba-tiba terdengar kabar bahwa ada keluarga yang meninggal dunia. Saya kaget. Sedih mendengarnya. Kenapa bisa secepat itu? Namun, kembali lagi, bahwa segalanya punya masanya tersendiri. Tidak lagi bisa ditawar. Jika sudah waktunya, di mana pun berada, kematian itu akan menyapa setiap orang. Apa pun pangkat, jabatan, status sosialnya, kematian akan datang menyapa setiap individu.
Kok serius dan ngeri amat ya tulisan saya kali ini? Begini, Saudara-saudara. Sebenarnya, saya hanya ingin mencoba mengalihkan perhatian sejenak. Sebab, hari ini saya agak loyo. Kepala pening.
Beberapa malam terakhir ini saya kurang tidur. Paling maksimal hanya dua jam saja waktu tidurnya. Itu pun kadang tak nyenyak. Ya, biasa, mata harus "on" terus, menjaga pasien, mengurus ini itu. Siang juga begitu: kurang tidur.
| Dok. Pribadi: Saat DI RSUD Kota Mataram |
Tapi, mau bagaimana lagi? Ini sudah menjadi tugas orang yang sehat. Yakni, membantu merawat orang yang sakit. Kalau bukan orang yang sehat yang menjaga atau merawatnya, siapa lagi?
Saya harus mengorbankan waktu sendiri demi menemani atau menjaga pasien di rumah sakit. Entah sampai kapan ini akan saya jalani. Saya akan berusaha semampu saya, sebisa yang saya lakukan. Kerja yang "offline" saya tinggalkan semua. Ya, benar-benar saya tinggalkan semua. Untung saja, beberapa pekerjaan yang saya jalani ada juga yang "online", kerja lewat HP, sehingga saya bisa mengerjakannya di mana saja.
Maka, di sela-sela menjaga atau merawat pasien, saya selalu meluangkan waktu untuk bekerja (online). Dengan bermodalkan HP, saya melakukan pekerjaan itu. Bekerja sepenuh hati. Bekerja dengan sesungguhnya.
Semoga semuanya baik-baik saja. Kalaupun akhirnya harus meneteskan air mata dan berkawan duka, saya bisa apa coba? []
Wallahu a'lam.
RSUD Kota Mataram, 2/1
Komentar
Posting Komentar