Di Bawah Langit Mataram

|Gunawan|

Pertama kali saya menginjakkan kaki di Kota Mataram adalah pada 2008 silam. Saat itu bertujuan untuk mengambil Beasiswa Masuk Universitas (BMU) di sebuah bank. Hanya beberapa hari saja saya berada di kota tersebut.

Kini, untuk kedua kalinya saya menyapa Kota Mataram. Tentu saja dengan tujuan yang berbeda. Kali ini, saya datang untuk menjaga atau menemani keluarga yang dirawat di rumah sakit. 

Perjalanan waktu dari hari ke hari sungguh tak terasa. Seolah berputar begitu cepat. Baru saja pagi menyapa, eh rupanya sudah siang. Baru saja mendengar azan Zuhur, eh tahu-tahu waktu Asar pun tiba. Sungguh, perputaran waktu yang begitu cepat berlalu. 

Kota Mataram dulu dan sekarang, tentu saja berbeda. Ada banyak perubahan. Tak terkecuali, bangunan-bangunan yang berdiri kokoh di pinggir jalan. 

Dok. Pribadi: Foto RSUD Kota Mataram dari depan

Di bawah langit Mataram, saya menemukan berbagai cerita. Ada cerita yang mengundang tawa. Ada juga cerita yang haru biru. Inspirasi demi inspirasi pun hadir menyapa. Hingga akhirnya, saya memutuskan untuk mengabadikannya menjadi catatan demi catatan, tulisan demi tulisan. 

Ya, selama berada di bawah langit Kota Mataram kali ini, saya tidak hanya menjaga atau menemani pasien, melainkan juga meluangkan waktu untuk menulis. Saya membuat catatan demi catatan. Saya menulis sedikit demi sedikit. HP adalah alat bantu yang saya gunakan untuk melahirkan tulisan demi tulisan yang dimaksud.

Saya sengaja mengabadikannya dalam wujud tulisan. Mendokumentasikan perjalanan menjadi tulisan perlu saya lakukan. Agar ada wujud atau buktinya. Juga agar bisa diingat atau dibaca kembali suatu hari nanti. 

Persoalan bermanfaat atau tidaknya catatan demi catatan tersebut buat orang lain, tak terlalu saya pikirkan. Jika ada orang lain yang merasa terhibur atau mendapatkan nilai positif dari tulisan saya, saya bersyukur. Manakala ada yang tak menyukainya juga, tidak menjadi masalah. Toh, saya menulis, awalnya hanya untuk diri sendiri dan untuk mengabadikan jejak perjalanan saya saja. Agar ada bekas dan bisa dibaca/diingat kembali di masa yang akan datang. 

Tulisan demi tulisan yang lahir tersebut, ada yang berbentuk nonfiksi, ada pula yang berwujud fiksi. Catatan demi catatan itu tidak terlalu panjang, pun tidak terlalu pendek. Cocoklah buat dibaca dalam sekali duduk. 

Saya juga berusaha menuliskannya dengan bahasa populer. Saya merangkainya senyaman mungkin. Agar mudah dimengerti oleh pembaca. Agar renyah dan enak untuk dibaca. 

Ya, di bawah langit Mataram, jemari tangan saya menari-nari di tuts HP. Di bawah langit Kota Mataram, tulisan demi tulisan pun lahir. []

Wallahu a'lam. 

RSUD Kota Mataram, 1&3/2

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal