Duka Lima Januari
|Gunawan|
Tidak ada yang benar-benar abadi. Segalanya hanya sesaat. Semuanya hanya sementara. Semuanya hanya titipan dari Tuhan. Dan, ada saatnya titipan itu akan kembali kepada-Nya. Hanya menunggu waktu saja kapan semuanya akan kembali menghadap Sang Pencipta.
Boleh jadi hari ini kita tertawa riang. Namun, siapa yang tahu, mungkin esok hari justru kita akan berderai air mata. Boleh jadi hari ini kita berselimut bahagia. Namun, boleh jadi juga, besoknya kita justru akan berkawan duka dan menangis sejadi-jadinya.
Hari ini mungkin kita masih sehat bugar dan masih bisa melakukan aktivitas sebagaimana biasanya. Namun, boleh jadi, esok atau lusa kita tiba-tiba berbaring sakit dan tak lagi mampu bergerak sebagaimana pada kondisi normal dan sehat.
Ya, begitulah siklus hidup di dunia ini. Selalu datang silih berganti. Tidak ada yang benar-benar abadi. Termasuk kondisi fisik kita. Kadang sehat. Kadang sakit.
| Dok. Pribadi: Suatu waktu saat hendak turun dari kapal |
Suatu waktu, pada lima Januari, usai menunaikan salat Magrib secara berjemaah di masjid, saya duduk bercerita dengan seorang sahabat di bawah pohon mangga di depan rumah orang tuanya. Sembari menunggu waktu Isya tiba, cerita demi cerita yang hadir mengalir begitu saja.
Tiba-tiba terdengar kabar bahwa ada salah satu anggota keluarga saya yang sedang kritis di rumahnya. Orang tua saya yang duluan ke sana. Sementara, saya merencanakan berangkat sesaat lagi. Saya masih melanjutkan obrolan dengan seorang sahabat tersebut. Ketika mendengar suara azan, saya dan seorang sahabat tersebut segera menuju masjid untuk menunaikan salat Isya terlebih dahulu. Baru kemudian, kami langsung beranjak ke dusun sebelah, menjenguk keluarga yang sedang kritis.
Tuhan berkehendak lain. Ternyata, saat kami tiba, dia tak lagi bisa menghirup udara dunia sebagaimana biasanya. Kami terlambat. Rupanya, dia telah meninggal dunia. Dia telah pergi menghadap Sang Ilahi, untuk selamanya. Sungguh, tak ada yang benar-benar abadi.
Saya segera masuk ke dalam rumah duka. Saya perhatikan, suara tangisan dari orang-orang sekitar pecah seketika, tak lagi terbendung. Dari anak-anak hingga para orang tua, mereka tak kuasa menahan air mata yang membasahi pipinya.
Malam itu adalah malam penuh duka bagi kami dan keluarga. Namun, mau bagaimana lagi? Semuanya telah digariskan oleh Tuhan. Bahwa semua yang bernyawa punya jatah waktunya tersendiri. Lagi dan lagi, tak ada yang benar-benar abadi.
Sesungguhnya, sebelumnya sudah dilakukan berbagai usaha untuk mengobati penyakit yang dia derita. Termasuk dibawa ke beberapa rumah sakit. Pertama, mendapatkan tindakan medis di RSUD Kabupaten Dompu. Kedua, dirujuk dan mendapatkan tindakan medis di RSUD Kota Mataram.
Saya sendiri ikut mengantar dan menemaninya saat berobat atau ketika dirawat di RSUD Kota Mataram. Satu minggu kami berada di sana. Dan, semua usaha sudah dilakukan secara maksimal. Namun oleh karena suatu hal, di hari ke tujuh, kami memilih untuk kembali ke kampung halaman. Pasrah saja, begitu kira-kira.
Setiba kembali di rumah, sudah diusahakan juga pengobatan yang lain. Namun ternyata, dia hanya mampu bertahan satu malam saja di rumahnya. Hingga kemudian, para keluarganya harus merelakan kepergiannya untuk menghadap Sang Yang Mahakuasa. Semoga dia tenang di alam sana. Amin.
Air mata duka pun turut mengantar kepergiannya di alam peristirahatannya yang terakhir, di alam kubur. Persis seperti saat kami naik ambulans dan berangkat berobat ke Kota Mataram, orang-orang juga tak kuasa menahan tetesan air matanya.
Sungguh, ternyata hidup di dunia ini tak abadi. Oleh karena itu, tak ada yang perlu dibangga-banggakan. Cukup nikmati saja hidup ini seperlunya saja dan selalu bersyukur atas apa pun yang terjadi. Persiapkan bekal sebanyak-banyaknya agar ada yang bisa dinikmati di hari akhirat nanti. []
Wallahu a'lam.
Lereng Lareda, 18/1
Komentar
Posting Komentar