Ketika Air Mata Tak Lagi Mampu Disembunyikan
|Gunawan|
Sesungguhnya, tak ada orang yang menginginkan sakit. Inginnya sehat terus yang datang menyapa dalam kesehariannya. Sama halnya juga, tak ada orang yang menginginkan luka dan duka datang menyapa. Inginnya bahagia dan ceria terus sepanjang usia.
Tapi, namanya juga hidup di dunia. Bagaimanapun cara kita menginginkan bahagia secara terus-menerus, akan tiba juga kita mengalami duka dan susah. Yang semula penuh senyum tawa, perlahan berubah menjadi pilu dan air mata duka.
Mengapa demikian? Karena memang hidup merupakan ladang ujian. Kadang diuji dengan kebahagiaan yang berlimpah ruah. Kadang juga diuji dengan sedikit ketakutan dan air mata duka. Namun, bagi yang mau berpikir, selalu ada hikmah di balik suatu ujian. Selalu ada pelajaran hidup di balik suatu peristiwa yang menimpa kita. Memang, begitulah sejatinya hidup ini memperlakukan kita.
Saya tidak tahu kapan mulainya. Tapi, sepengetahuan saya, ia adalah perempuan yang begitu setia, sejak dulu. Ia selalu menemani sang belahan jiwanya di saat suka maupun duka. Apa pun yang terjadi, ia selalu berada di sampingnya.
Saat itu, saya menyaksikan sendiri. Di saat sang kekasih hatinya berbaring sakit dan tak berdaya, ia selalu ada di sampingnya. Menemani dan merawatnya sepenuh hati dan sungguh-sungguh.
| Sumber gambar: Lovepik.com |
Tak jarang ia meneteskan air mata. Meski sering kali ia menahan pilu, namun tetap saja ia tak sanggup menyembunyikan tetesan air matanya. Entah itu di depan belahan jiwanya itu maupun di belakangnya.
Ketika ada panggilan di ujung telepon, tak jarang saya melihat ia yang terus berusaha mengusap air matanya. Ada kesedihan yang begitu mendalam yang tampak di bola matanya. Dan, hal itu sulit ia sembunyikan. Saya paham dengan keadaan semacam itu.
Saya terkadang menghiburnya dengan berbagai cerita lucu. Sesekali ia tersenyum dan tertawa lepas. Namun, setelah itu, tetap saja raut wajahnya menampakkan kesedihan yang begitu mendalam. Mungkin ia takut tak lagi bisa bersama belahan jiwanya itu dalam waktu yang relatif lama. Apalagi di saat kondisi dan keadaan seperti itu.
Bagi yang belum pernah berada di posisi seperti itu, mungkin akan mengatakan sabar dan tenang saja. Namun, saya sendiri yang terus menemaninya, kadang tak bisa menyembunyikan kesedihan dan tetesan air mata juga. Apalagi, bagi ia yang menjadi belahan jiwanya selama ini, tentu jauh merasakan kepedihan dan kesedihan yang amat mendalam.
Ya, begitulah hidup ini. Ada saatnya kita sedih dan tak kuasa menahan tangis. Apalagi, di saat menemani/merawat keluarga atau seseorang yang begitu kita cintai yang sedang berbaring sakit. []
Wallahu a'lam.
Lereng Lareda, 18/1
Komentar
Posting Komentar