Mengubah Curhatan Menjadi Tulisan
|Gunawan|
Sejauh ini, saya masih menikmati dunia menulis. Saya masih terus memproduksi tulisan demi tulisan. Saya masih terus belajar merangkai aksara dan kata.
Saya menulis sedikit demi sedikit. Akhir-akhir ini saya menulis pakai telepon genggam. Ya, alat bantu menulisnya adalah hanya HP.
Perihal ide tulisan, sampai sejauh ini, terus saja ada. Baik itu ide yang sederhana maupun penuh makna, kadang datang tak terduga. Di saat seperti ini, biasanya saya langsung mencatat dan mengembangkannya menjadi sebuah tulisan utuh.
Kata Prof. Dr. Ngainun Naim, ide tulisan itu harus dicari, bukan dinanti. Bisa melalui membaca. Bisa juga melalui penglihatan, pendengaran, dan lainnya. Pada dasarnya memang begitu: bahwa ide itu harus dicari, bukan dinanti.
Tapi, adakalanya ide itu datang dengan sendirinya, tanpa dicari ke mana-mana. Tentu saja, kondisi seperti ini tak boleh disia-siakan. Saya biasanya sebisa mungkin akan mengubahnya menjadi tulisan.
Perihal ide sebuah tulisan, memang menjadi hal yang teramat penting bagi seorang penulis. Ada ide, maka tulisan akan lahir. Tak ada ide, lantas apa yang akan ditulis? Itulah mengapa saya sendiri selalu menghargai karya tulis seseorang, apalagi buku, apa pun bentuknya. Sebab, saya tahu, tidak mudah melahirkan sebuah karya tulis, sesederhana apa pun itu. Menulisnya boleh jadi mudah, tapi proses menemukan idenya itu yang tak mudah. Maka tak heran, ada yang mengatakan bahwa penulis itu yang dijual adalah idenya. Dan, setiap ide itu punya nilai dan harganya tersendiri.
| Dok. Pribadi: Dua buku ini terbit pada 2022 |
Salah satu sumber ide tulisan saya adalah dari curhatan orang. Entah itu curhatannya langsung di depan saya maupun yang mereka tulis atau ceritakan di beberapa media sosialnya.
Ketika saya menemukan benang merah dari curhatan mereka, biasanya akan saya kembangkan menjadi tulisan utuh. Entah itu curhatannya yang berisi kebahagiaan maupun yang mengandung luka dan air mata.
Kebanyakan dari hasil curhatan orang-orang itu saya buat dalam bentuk catatan pendek. Semacam puisi atau sajak atau apalah namanya. Tentu saja, selalu ada "bumbu-bumbu" yang saya selipkan di catatan demi catatan itu. Bila ada yang curhatannya yang tak utuh atau sepotong-sepotong, biasanya lanjutan ceritanya tergantung kemauan saya mau diarahkannya ke arah mana.
Mungkin dalam merangkai catatan pendek semacam ini, lebih tepatnya saya ini bertindak sebagai pengarang, bukan penulis. Sama halnya juga tatkala saya membuat catatan perjalanan ke berbagai tempat, kayaknya lebih cocok disebut pengarang. Entahlah.
Apa pun namanya, saya tidak mau terlalu terjebak dengan perdebatan panjang mengenai penempatan kedua istilah itu. Yang penting, saya tetap bisa terus berkarya tulis. Saya senang dan bahagia melakukannya. Dan, mengubah curhatan menjadi sebuah tulisan adalah salah satu hal yang saya lakukan. []
Wallahu a'lam.
Lereng Lareda, 26/1
Komentar
Posting Komentar