Menulis Catatan Harian, Ngapain Malu?
|Gunawan|
Bagi yang pernah menghirup udara di dunia ini, tentu saja pernah mengalami banyak cerita. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi, ada saja hal-hal yang dialami, didengar, dan dirasakan. Entah yang sederhana maupun yang luar biasa. Entah itu yang lucu, unik, sedih, dan lainnya.
Hal-hal semacam ini, tentu saja sangat bisa dijadikan bahan tulisan. Amat bisa diubah menjadi untaian kata dan kalimat. Sangat bisa dijadikan catatan harian.
Ya, bagi yang sedang (berusaha) belajar menulis, menulis catatan harian adalah salah satu pilihan yang tepat. Mulai saja menulis dari hal-hal yang sederhana. Tulis apa saja yang pernah dialami, dilalui, didengar, atau bahkan dirasakan setiap hari. Nggak usah malu.
Jangan langsung berharap yang tinggi-tinggi dan begitu wow. Sebab, segalanya butuh proses, termasuk menulis. Mulai saja menulis dari pengalaman sehari-harinya. Entah itu bermanfaat atau tidaknya itu catatan harianmu, jangan dulu pedulikan akan hal itu. Silakan nulis saja terus. Namanya juga sedang belajar. Nikmati saja.
Nggak usah terlalu peduli apa kata orang terhadap tulisan atau catatan yang pernah kita hasilkan. Nulis saja terus, apa pun itu. Nggak usah malu dengan tulisan yang kita tulis. Jika ada komentar miring, abaikan saja. Anggap saja sebagai angin lalu. Tugas kita adalah terus berusaha dan belajar menulis.
![]() |
| Dok. Pribadi: Salah satu buku karya saya |
Saya sendiri adalah orang yang sedang berusaha dan belajar membuat catatan harian. Apa pun itu, jika bisa dijadikan tulisan, maka akan saya jadikan tulisan. Bahkan, dari catatan-catatan harian sederhana lagi receh itu, pada akhirnya berwujud buku juga. Ada beberapa buku saya yang mulanya bersumber dari catatan harian.
Dan rupanya, buku-buku itu ada banyak penikmat atau pembacanya. Mereka itu dari beragam profesi dan lintas generasi. Saya senang ketika orang-orang tersebut mau membaca hasil karya sederhana saya. Apalagi, saat ada yang mengapresiasinya dengan cara mengulas atau meresensinya, sungguh saya senang dan bahagia. Terlebih lagi, mendengar ada beberapa orang yang berhasil menulis buku sendiri gara-gara membaca buku sederhana saya itu, sungguh bahagia sekaligus terharu.
Sampai saat ini, salah satu jenis tulisan yang saya hasilkan adalah catatan harian. Catatan-catatan yang saya hasilkan tersebut mungkin kelihatannya sederhana, bahkan mungkin juga "sampah". Tapi, saya amat bahagia bisa menuliskannya. Saya amat bahagia juga karena telah berhasil mengubah "sampah" tersebut menjadi buku.
Ada banyak penulis yang saya kenal (di media sosial) yang terus berusaha menulis catatan hariannya. Berbagai pengalaman yang mereka alami, sebisa mungkin mereka akan abadikan dalam wujud tulisan hingga buku. Dari hasil perjalanannya ke berbagai tempat, mereka akan mengubahnya menjadi untaian kata dan kalimat. Di antara penulis-penulis itu, sebut saja di antaranya adalah Prof. Dr. Imam Suprayogo, Prof. Dr. Ngainun Naim, Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara.
Jika beliau-beliau tersebut mau dan mampu menulis catatan harian, yakinlah kita juga bisa. Yang penting ada usaha dan mau segera menulis. Nggak usah malu juga. Menulislah sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Mungkin sekarang kita menganggapnya tak ada guna menulis catatan harian. Tapi, saya yakin, suatu saat, Anda akan mengerti apa yang saya maksud panjang lebar ini. []
Wallahu a'lam.
Lereng Lareda, 16/1

Komentar
Posting Komentar