Sebuah Penyesalan

|Gunawan|

Usai salat Isya, saya melepas penat sejenak. Saya bergegas pergi menghirup udara bebas di luar rumah sakit. 

Saya perhatikan suasana di sekitar. Tidak terlalu ramai. Juga tidak terlalu sepi. Setidaknya, bagus untuk menenangkan atau menyendiri sesaat.

Beberapa saat kemudian, saya kembali ke area dalam rumah sakit. Saya tidak bisa lama-lama di luar. Saya takut ada keperluan mendesak di dalam ruangan yang butuh tenaga atau pikiran saya. 

Saya pun tiba di ruangan. Ternyata, bibi saya dan iparnya sudah tidur. Entah sudah berapa lama mereka tidur. Saya tak ingin mengganggunya. Saya kemudian cek kondisi pasien, juga cairan infus yang masih terpasang. Semuanya aman terkendali. 

Saya kemudian ke luar ruangan. Saya menuju tempat "tongkrongan" umum. Tempatnya masih satu lantai dengan ruangan kami. 

Di luar ada banyak orang yang sudah mengambil tempat duduknya masing-masing. Beralaskan tikar. Tak sedikit juga yang sudah tidur. Kebanyakan dari kaum wanita. Ada yang sudah berkeluarga. Ada juga yang masih gadis.

Saya menempati kursi panjang yang masih kosong. Saya keluarkan HP di saku celana. Lalu, saya buka portal berita online. Saya baca berita sesaat. Setelahnya, saya baca beberapa tulisan di buku elektronik yang saya simpan di HP. Usai itu, saya buat tulisan atau catatan demi catatan. 

Tak terasa. Ternyata, di layar HP sudah nyaris tengah malam. Saya kembali ke ruangan, saya cek kondisi pasien. Cairan infusnya nyaris habis. Segera saya panggil perawat yang jaga malam di ruangannya untuk menggantikan cairan infusnya. Si perawat itu kemudian mengindahkan panggilan saya. Satu tugas saya selesai. 

Saya kembali lagi ke kursi panjang tadi. Saya perhatikan di sekitar, nyaris semua orang sudah tidur. Hanya satu dua orang yang masih begadang. 

Saat itu, saya mengambil posisi tidur sejenak. Meskipun tak bisa nyenyak dan pikiran masih terus terfokus ke pasien, saya tetap paksakan untuk memejamkan mata. 

Sekira setengah jam kemudian, saya bangun. Ternyata, di samping saya, dengan beralaskan lantai, tampak ada dua orang perempuan. Sepertinya, seorang ibu dan anaknya. Si ibunya (mungkin) sedang tidur. Sementara, anak perempuannya sedang asyik duduk sembari memainkan HP-nya. 

Seperti biasa, ketika bangun di malam hari, saya harus minum. Saya kemudian mengambil air minum yang saya beli saat ke luar tadi. Lalu, saya meneguknya. 

Beberapa saat kemudian, saya kembali mengambil posisi tidur. Kali ini, saya agak nyenyak. Satu jam kemudian, saya bangun dari tidur. Saya perhatikan, dua orang wanita tadi masih dalam posisi yang sama. Sang ibunya masih tidur di lantai, sementara anak perempuannya masih asyik duduk memainkan telepon genggamnya. 

Saya tidak sempat menyapanya. Namun, saya lihat, ia sempat menguap. Sepertinya, ia mulai ngantuk. Tapi, ia tetap fokus dengan telepon genggamnya. Sesekali juga ia melirik ke arah saya. 

Saya kemudian bergegas ke dalam ruangan. Saya kembali mengontrol keadaan di dalam ruangan. Dan juga saya menghabiskan waktu untuk duduk di dalam ruangan hingga azan Subuh berkumandang. 

Ketika azan Subuh berkumandang, saya melangkahkan kaki ke Masjid Darusysyifa. Ingin menunaikan salat Subuh. Di kursi di tempat tidur saya tadi, saya perhatikan, ternyata tidak lagi kosong. Ada seorang yang menempatinya tidur. Saya perhatikan sejenak, rupanya beliau adalah si ibu yang tidur di lantai tadi. Dan, tempat tidur ibu tadi langsung ditempati oleh anaknya, seorang perempuan. Si gadis itu hanya tidur beralaskan sarung selembar. 

Baru saya sadar, ternyata dari tadi, si gadis itu sedang menunggu (memperhatikan) tempat tidur yang kosong. Saya menyesal. Sungguh, saya amat menyesal. Saya menyesal, karena tidak menyempatkan waktu untuk menanyakan si gadis itu saat ia sedang melirik saya tadi. 

Saya lihat, ia begitu nyenyak. Ia ngorok. Mungkin juga ia menggigil, karena hanya tidur beralaskan selembar sarung saja. 

Dok. Pribadi: Masjid Darusysyifa RSUD Kota Mataram

Saya kemudian langsung ke masjid. Menunaikan salat Subuh secara berjemaah. Usai itu, sejenak saya mengaji, lalu kembali ke ruangan. 

Sebelum melangkahkan kaki ke dalam ruangan, saya lihat si ibu dan anak gadisnya tadi masih saja nyenyak di tempat tidurnya. Padahal, waktunya sudah pagi. Mungkin keduanya begitu ngantuk, terutama si anak gadisnya yang begadang sampai sepertiga malam terakhir. 

Lagi dan lagi, saya sungguh menyesal tak sempat menanyakan si gadis itu tadi. Seandainya saya sempat tanya, mungkin ia tak akan begadang begitu lama. Juga akan saya langsung kasih tempat tidur tersebut untuk kemudian untuk ia menikmati tidur malamnya. []

Wallahu a'lam. 

Lereng Lareda, 12/1

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal