Selamat Tinggal, Mataram
|Gunawan|
Selama enam hari enam malam saya berada di Kota Mataram. Menjaga atau menemani pasien. Mengurus berbagai keperluan yang harus diurus. Berdiskusi dengan petugas rumah sakit, mulai dari perawat, dokter, dan berbagai pihak lainnya untuk keperluan penyembuhan pasien.
Harus saya akui, selama berada di rumah sakit ini saya begitu capek. Saya kurang tidur. Paling banter hanya dua jam saja saya menikmati tidur di malam hari. Itu pun tidak nyenyak. Pernah beberapa malam saya tidak tidur sedikit pun. Siangnya pun sama, paling hanya satu jam saja bisa berbaring di lantai rumah sakit. Semua saya lakukan demi menjaga atau menemani pasien yang sedang berbaring lemas di rumah sakit. Saya melakukannya sepenuh hati dan begitu sungguh-sungguh.
Adalah Ruang IRNA III A9 yang kami tempati. Bagian bedah. Bertempat di lantai dua. Di dalam kamar yang kami tempati hanya memuat tiga pasien. Jadi, tidak terlalu sepi, juga tidak terlalu ramai.
Sebagaimana pernah saya tulis di catatan lainnya, selama berada di sini, ada banyak hal yang saya pelajari. Ada banyak hal yang saya temui. Ada banyak pengalaman yang saya peroleh. Tak sedikit kenangan dan cerita yang tercipta.
Di sini juga saya menemukan banyak teman baru. Ada petugas kebersihan, satpam, perawat, dokter, mahasiswa yang sedang menjalani praktikum, pasien, penjaga pasien, dan lainnya. Tak disangka, ternyata ada beberapa adik kelas saya waktu SMA juga yang bertugas dan melakukan praktik di rumah sakit ini. Sungguh, sebuah keberuntungan bisa berkenalan dan bersua dengan mereka. Tidak rugi.
Apa yang saya atau kami lakukan di rumah sakit ini adalah bagian dari ikhtiar. Sebuah usaha untuk menyembuhkan luka atau penyakit yang diderita. Semoga dengan begini, semuanya menjadi membaik.
Enam hari enam malam telah berlalu. Boleh dibilang sebentar, boleh dibilang lama. Dibilang sebentar, karena waktu berputar begitu cepat, tak terasa. Bagi pasien, mungkin ini adalah waktu yang terbilang lama.
![]() |
| Dok. Pribadi: Saat pulang melintasi jalan di Lombok Timur |
Meskipun semuanya sudah berusaha secara maksimal, namun ada saja hal yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Hingga akhirnya, kami memutuskan untuk pulang saja. Perawatan di rumah sakit pun tidak lagi dilanjutkan. Mau tidak mau, kami harus pulang. Selasa, 3 Januari 2022, pukul 20:02 adalah waktunya kami meninggalkan Kota Mataram.
Agar bisa pulang, sebagai perwakilan dari pihak keluarga pasien dan sebagai penanggung jawab atas pasien tersebut, saya harus menandatangani surat pernyataan khusus. Juga mengurus semua administrasi yang belum tuntas agar bisa pulang. Mengontak bagian yang mengurus ambulans untuk pulang, walau pada akhirnya tidak jadi pulang menggunakan ambulans. Dan, mengurus berbagai keperluan lainnya.
Selamat tinggal, Mataram. Terima kasih sudah menyambut kami. Terima kasih sudah melayani kami. Terima kasih sudah memberikan banyak cerita dan pengalaman berharga. Terima kasih atas segala cerita yang tercipta. Kami pamit! []
Wallahu a'lam.
Lereng Lareda, 5/1

Komentar
Posting Komentar