Suara Jangkrik pun Perlahan Sirna
|Gunawan|
Listrik masuk di desa saya sekira tahun 2013. Orang-orang bergembira ria. Penerangan dari rumah-rumah warga tidak lagi sebatas lampu minyak. Satu per satu rumah warga mulai dialiri listrik.
Perubahan demi perubahan pun terjadi. Orang-orang sudah mulai bisa menonton televisi dengan berbagai siaran dan pilihan acara. Jika dulu hanya bisa mendengar suara saja lewat saluran radio, dengan adanya listrik masuk desa tersebut para warga sudah bisa menyaksikan berbagai pertunjukkan di berbagai saluran televisi (bukan sekadar suara, tapi ada gambarnya juga).
Dari tahun ke tahun, televisi pun mulai bertambah. Semula, hanya satu dua rumah saja yang punya televisi. Namun, seiring berputarnya waktu, sampai sekarang, nyaris setiap rumah punya televisi.
Akibatnya, orang-orang dengan mudahnya menikmati berbagai siaran televisi yang diinginkan. Ada yang nonton berita. Ada yang nonton hiburan. Termasuk berbagai sinetron atau drama yang ditampilkan di beberapa stasiun televisi, menjadi kesukaan orang-orang di kampung saya.
Mulai dari anak-anak hingga usia senja, menonton televisi adalah bagian dari kesehariannya. Mulai dari para gadis hingga emak-emak, nonton acara gosip dan beberapa hiburan lainnya bukan lagi sesuatu yang aneh.
| Sumber gambar: Merdeka.com |
Rupanya, perubahan itu kian tak terelakkan. Hal ini juga dirasakan oleh masyarakat di kampung saya.
Zaman HP atau Smartpone pun menyapa. Lantas, orang-orang mulai mengenal yang namanya media sosial. Menikmati beragam sajian lewat aplikasi YouTube, Facebook, Instagram, TikTok, Snack Video, dan lainnya adalah juga menjadi bagian yang sudah melekat dengan masyarakat di kampung saya, terutama bagi kalangan anak-anak, remaja, dan usia dewasa.
Juga termasuk berbagai jenis permainan di HP, bukan lagi sesuatu yang asing bagi anak-anak dan kaum muda di kampung saya. Mereka dengan entengnya menikmati berbagai games yang disuguhkan itu. Bahkan, ada yang begadang sampai pagi gara-gara bermain games bersama dengan teman-temannya. Bagi mereka, menguap di sekolah gara-gara malamnya begadang adalah bukanlah sesuatu yang aneh.
Di era digital yang kian menjamur ini, nyaris suara jangkrik pun tak lagi terdengar di luar rumah. Suara jangkrik yang dulu begitu nyaring terdengar, kini perlahan digantikan oleh suara televisi. Kini, suara jangkrik pun perlahan digantikan oleh suara berbagai aplikasi yang dimainkan atau disaksikan lewat telepon pintar atau Smartphone.
Jika jangkrik-jangkrik itu bisa berbicara layaknya manusia, mungkin mereka akan meminta kepada Tuhan untuk pindah alam atau habitat saja. "Tuhan, capek bersuara di sini sepanjang malam. Sudah nggak ada lagi yang mau mendengarkan. Jika boleh, kami ingin pindah alam saja." []
Wallahu a'lam.
Lereng Lareda, 31/1
Komentar
Posting Komentar