Terpaksa Pulang

|Gunawan|

Sudah enam hari enam malam kami berada di bawah langit Mataram. Segala usaha sudah dilakukan. Segala kemampuan telah dikerahkan. Apa pun itu, meski tak sesuai dengan harapan, semuanya harus diterima dengan lapang dada dan penuh ikhlas. 

Sore hari, usai saya menunaikan salat Asar di masjid, rencana berubah mendadak. Melalui diskusi dan musyawarah dengan keluarga besar di ujung telepon, kami memutuskan untuk pulang atau kembali ke kampung saja. Tidak lagi meneruskan bermalam di rumah sakit. Tidak lagi menunggu jadwal operasi dan berbagai bentuk pengobatan lainnya. Tidak lagi menikmati hari-hari di bawah langit Mataram. 

Apa boleh buat. Kami harus segera berkemas. Bersiap-siap untuk pulang. Saya pun berdiskusi dengan pihak dokter dan perawat. Hematnya, berdiskusi dengan pihak rumah sakit. Meminta izin kepada mereka. Mendengar perkataan saya, mereka kaget. Sebenarnya, mereka tak mengizinkan untuk pulang terlebih dahulu, karena masih dalam proses perawatan atau penanganan medis. Tapi, karena suatu alasan dan dengan perbincangan yang cukup alot, akhirnya kami diizinkan untuk ke luar dari ruang perawatan dan pulang. Dengan catatan, saya harus membuat surat pernyataan dan menandatanganinya. 

Termasuk mengurus administrasi lain yang belum kelar. Juga menghubungi pihak ambulans. Namun, karena suatu hal, kami tak jadi pulang pakai ambulans. Kami pun memilih menyewa travel. 

Perjalanan pulang pun dimulai. Pukul 20:02 WITA, sopir travel mulai menyalakan mobil dan bergegas menuju pintu gerbang keluar rumah sakit. Udara rumah sakit tak lagi bisa kami hirup. 

Perjalanan pulang relatif lancar dan terkendali. Tidak macet. Tidak terlalu banyak kendaraan yang lalu-lalang di jalan. Mungkin karena suasana perjalanan di malam hari.

Di perjalanan pulang, kami sempat istirahat. Sekaligus menikmati makan malam. Kami berhenti di depan rumah makan yang berlokasi di Lombok Timur. Saya lupa apa nama rumah makannya. Yang pasti, di situ kami menikmati makanan. Nasi campur adalah menu yang kami nikmati. Buat saya, sangat nikmat. Apalagi, tadinya saya hanya sempat sarapan pagi saja. Jadi, adanya nasi dan air yang masuk di perut malam tersebut adalah cukup untuk menambah tenaga. 

Beberapa menit usai menikmati makanan, kami langsung melanjutkan perjalanan. Menit demi menit pun berganti, hingga akhirnya kami tiba di Pelabuhan Kayangan. Di Pelabuhan Kayangan, saya memutuskan untuk membeli kopi satu gelas. Harganya lima ribu rupiah. Penjualnya sudah tua, sudah beruban. 

Saya sengaja beli kopi, meskipun saya tidak terlalu suka kopi. Namun, malam itu, mau tidak mau, saya harus minum kopi. Maklum, malam tersebut saya bertekad untuk tidak tidur walau sedetik. Saya takut sopir travelnya ngantuk di tengah perjalanan. Makanya, saya sanggup menahan kantuk dan menemani Pak sopir yang sedang menyetir. Saya temani beliau bercerita. Beliau senang karena ada yang menemani bercerita di sepanjang perjalanan. 

Dok. Pribadi: Saat tiba di Pelabuhan Pototano, Sumbawa

Kami nyebrang lautan pakai kapal nyaris tiga jam. Kapal start pada pukul 22:19 dan bersandar di Pelabuhan Pototano, Sumbawa sekira pukul 00:56. Beda dengan saat berangkat yang tak tak sampai dua jam. Kali ini memakan waktu yang agak lama, karena besarnya ombak yang menghantam lautan dan kapal. Kepala saya sempat pening gara-gara besarnya gelombang tersebut.

Tak sabar kami ingin cepat sampai di rumah. Namun, di sisi lain, sopir travel juga tak mungkin ingin ngegas mobil begitu cepat atau ugal-ugalan. Sebab, keadaannyalah yang tidak memungkinkan. Ya, kami nikmati saja perjalanan tersebut.

Jujur, di sepanjang perjalanan, saya harap-harap cemas. Untuk menghilangkan kecemasan, saya mengaji. Membaca Al-Qur'an di HP, sebisa saya. Saya terus bermohon kepada Sang Ilahi, semoga semuanya baik-baik saja dan sampai ke tempat tujuan dengan selamat.

Jika tidak salah, azan Subuh bergema di Kecamatan Empang. Terlihat satu dua orang berjalan menuju masjid untuk menunaikan salat Subuh. Namun, untuk kendaraan roda dua dan roda empat belum ada yang terlihat. Hanya mobil travel kami yang berkuasa di jalan raya tersebut. 

Saat berada di Nanga Tumpu sudah tidak lagi gelap. Sebab, pagi telah menyapa. Mata saya masih bertahan tak terpejam sedetik pun. Bibi menyuruh saya untuk tidur walau sebentar, namun saya tidak mau. Sampai di kampung sekira pukul 07:20 WITA, saya masih kuat menahan kantuk. Atas izin Tuhan Yang Mahakuasa, kami pun tiba di kampung dalam keadaan selamat. Kami disambut dengan gembira oleh warga-warga di sekitar. Ada juga yang meneteskan air mata. []

Wallahu a'lam. 

Lereng Lareda, 14/1

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal