Berterima Kasihlah kepada Sang Pencipta

|Gunawan|

Matahari terus datang menyapa. Dari pagi hingga sore hari. Panasnya sungguh terasa. 

Di beberapa tempat, tanaman para petani kekurangan air. Ada yang setengah mati berjuang menghadapi kepanasan. Ada juga yang mati karena tak mampu bertahan. 

Orang-orang mulai mengeluh. Bahkan, beberapa sudah menyerah. Ada yang menyalahkan keadaan. Kapan hujan akan mengguyur bumi? Mengapa begitu lama cahaya mentari menyapa semesta? Kalau keadaan terus begini, bisa gagal panen tahun ini, katanya. 

Namun, saya selalu percaya, setelah air mata duka akan ada senyum bahagia. Setelah kesulitan yang datang melanda akan ada kemudahan yang tak terkira. 

Boleh jadi panas menyengat beberapa hari itu sebagai salah satu bentuk ujian di muka bumi ini. Meskipun menyakitkan, yakinlah ada makna tersendiri di balik semua itu. Mungkin Sang Pencipta ingin melihat ciptaan-Nya sejauh mana kita mampu bertahan dengan ujian semacam ini. 

Dok. Pribadi: Salah satu quotes saya

Kini, setelah beberapa hari cahaya mentari berkuasa dan memuntahkan panasnya, hujan pun mulai menyapa. Ia mulai mengguyur bumi. Hingga kemudian, beberapa hari guyurannya semakin deras. Dari pagi hingga sore, bahkan sampai malam hari. Ada juga yang sampai mendatangkan banjir. Saat saya menulis catatan receh ini, hujan sehari penuh datang menyapa bumi.

Di saat hujan turun seperti ini, rupanya masih ada saja yang mengeluh. Lagi dan lagi, ada yang menyalahkan keadaan. Kapan hujan akan berhenti menyapa bumi? Mengapa hujannya sangat deras begini? Kapan sang surya akan menyinari bumi lagi? 

Ya, begitulah kenyataannya yang terjadi belakangan ini. Terkadang, kita manusia ini lupa berterima kasih dan bersyukur kepada Sang Pencipta. Di saat menginginkan A, misalnya, kita maunya A yang langsung hadir di depan mata, bukan B atau yang lainnya. Padahal, jika kita mau berpikir sejenak saja, hidup di dunia ini sesungguhnya adalah ladang ujian. Pasti ada banyak lika-liku dan tantangan yang ikut hadir tatkala menghadapi ujian itu. Dan, tidak semuanya sesuai dengan kemauan kita.

Bersyukurlah terhadap apa yang sedang terjadi dan menimpa kita. Termasuk di saat panas mentari yang begitu menyengat atau di kala hujan mengguyur tanpa henti. Berterima kasihlah kepada Sang Pencipta, Tuhan Yang Mahakuasa. Jangan menyalahkan keadaan. []

Wallahu a'lam. 

Lereng Lareda, 2/2

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal