Dari Coretan yang Berserakan Menjadi Buku Terbit

|Gunawan|

Saya selalu meyakini, setiap tulisan pasti akan menemukan pembacanya tersendiri. Apa pun bentuknya (nonfiksi maupun fiksi), yakinlah akan ada yang membacanya. Boleh jadi tulisan itu tak disukai oleh si A, namun digemari oleh si B. 

Sama halnya dengan buku. Sebuah buku, apa pun jenisnya, pasti akan menemukan pembacanya tersendiri. Sebab, setiap orang punya selera yang berbeda-beda.

Di era sekarang, menulis buku tidaklah terlalu sulit. Menurut saya, sekarang cenderung jauh lebih mudah. Asalkan punya kemauan dan aksi nyata (langsung menulis), melahirkan sebuah buku bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. 

Jenis buku tentu saja ada beragam. Ada yang berjenis puisi, cerita pendek, novel, catatan perjalanan, dan lain-lain. Ada buku nonfiksi, ada buku fiksi. Ada buku ilmiah, ada buku populer. Atau apa pun sebutan atau klasifikasinya. 

Pada catatan receh kali ini, saya hanya mengatakan bahwa coretan yang berserakan juga sangat bisa dijadikan buku. Baik itu coretan yang panjang maupun yang pendek. Apa pun persoalan yang dibahasnya, nggak jadi masalah. 

Meskipun namanya coretan yang berserakan, tentu saja harus renyah dan menarik untuk dibaca. Maka, perlu adanya proses penyuntingan atau editing sebelum naskahnya dikirim atau ditawarkan ke pihak penerbit. 

Dok. Pribadi: Salah satu buku karya saya

Alangkah baiknya naskah yang dimaksud diedit sendiri dulu. Lakukan swasunting, begitu. Sebab, pihak penerbit juga tidak sembarang menerima naskah yang akan diterbitkan menjadi buku. Jika tidak bisa mengedit sendiri, bisa bayar atau sewa jasa editor. Syukur-syukur kalau ada teman atau kenalan yang bisa membantu mengedit secara gratis. 

Saya pernah menerbitkan beberapa buku model begini. Dari coretan saya yang berserakan di berbagai media. Coretan-coretan tersebut saya kumpulkan terlebih dahulu. Lalu, saya pilah dan pilih mana yang cocok diterbitkan. Lantas, lanjut ke tahap editing. Dalam hal ini, saya edit sendiri. Saya perhatikan kesalahan ketik, penempatan tanda baca, dan lain-lain. 

Dalam pelaksanaannya, tahap editing ini yang menurut saya agak ribet. Bahkan, bisa bikin kepala pusing dan memunculkan hawa panas di kepala. Tapi, kalau coretan atau tulisannya sudah rapi sejak awal, di tahap editingnya tidak terlalu membuat kepala pening. 

Apa pun itu, kalau dijalankan dengan sungguh-sungguh, pasti akan selesai juga. Termasuk dalam proses menulis dan mengedit itu sendiri. 

Jadi, buat siapa saja yang pernah menulis di berbagai media, nggak ada salahnya tulisan atau coretan-coretan yang berserakan tersebut dikumpulkan kembali. Bila perlu ubah menjadi buku terbit. Mau tulisan panjang atau catatan pendek, nggak masalah. Kumpulkan saja.

Sekali lagi, bahwa coretan yang berserakan sangat bisa disulap menjadi buku terbit. Intinya, ada tulisan atau coretan dulu. Kalau sudah ada banyak coretan atau tulisan yang pernah ditulis, memiliki buku terbit karya sendiri bukanlah sebuah hal yang tidak mungkin. Ini semua tinggal menunggu waktu saja. Yakin bisa! []

Wallahu a'lam. 

Lereng Lareda, 10/2

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal