Di Bawah Langit Malam
|Gunawan|
Saat melangkahkan kaki ke masjid, dari jauh saya melihat ada kobaran api. Rupanya, ada beberapa anak muda yang hendak bakar-bakar jagung. Namun, kami menunaikan salat Isya terlebih dahulu secara berjemaah di masjid.
Usai salat Isya, saya mampir di tempat tersebut. Bersama beberapa orang tua juga. Saya mencoba menikmati kebersamaan bersama mereka. Bakar-bakar jagung.
Tak ada yang begitu istimewa. Walau demikian, tetap terasa indah. Ya, nuansa kebersamaan semacam ini sungguh indah sekali.
Dinginnya malam tak terasa. Hawa api menjadi penghangat di malam seperti ini.
| Dok. Pribadi: Suasana kebersamaan saat bakar-bakar jagung malam ini |
Saat sedang membakar jagung, cerita demi cerita mengalir begitu saja. Suara tawa pun sesekali menghiasi sang malam.
Tak ada sekat yang memisahkan. Semuanya saling membaur. Sebab, semuanya sudah seperti saudara sendiri.
Ya, beginilah salah satu cara kami anak pelosok desa menikmati kebahagiaan. Duduk bersama di bawah langit malam sembari menikmati jagung bakar. Bukan duduk di kafe dengan secangkir kopi atau berbagai sajian minuman lainnya, melainkan duduk bersama di ruang terbuka dengan hanya beralaskan tanah. Sederhana, namun indah lagi nikmat.
Buat kamu-kamu yang masih berkawan luka dan air mata sampai kini, cobalah sesekali menikmati malam dengan teman-temannya. Saling berbagi cerita dan melepas tawa. Lalu, menikmati jagung yang dibakar sama-sama.
Bila masih terluka dan berteman lara, cobalah baca catatan receh ini. Siapa tahu dengan membaca catatan receh lagi sederhana ini, kamu bisa tersenyum ramah. []
Wallahu a'lam.
Lereng Lareda, 10/2
Komentar
Posting Komentar