Jomlo dan Nasi Kotak

|Gunawan|

"Mas, tumben bawa nasi dari rumah? Lengkap pula lauk dan sayurnya," kata seorang rekan kerja suatu waktu ketika melihat makanan yang saya bawa dari rumah. Dia sudah berkeluarga. Sudah tiga tahun membangun rumah tangga. 

"Emangnya nggak boleh, Mbak?" 

"Bolehlah, Mas. Hanya saja, saya perhatikan biasanya kalau di ruang kantor, Mas selalu makan nasi kotak atau nasi bungkus yang dibeli di warung sebelah."

Dok. Pribadi: Menu makanan suatu waktu

"Meskipun laki-laki, saya juga bisa masak, Mbak."

"Ya, saya paham. Masalahnya, kata guru saya yang juga sebagai pemerhati jomlo, bahwa jomlo itu identik dengan nasi kotak atau nasi bungkus. Dan juga biasanya yang bawa nasi lengkap beserta lauknya dari rumah di kantor ini adalah rata-rata yang sudah berkeluarga. Emangnya Mas sudah menikah?"

Saya nggak jawab pertanyaannya yang terakhir tersebut. Dan tanpa saya jawab juga, dia sudah tahu. 

Gini amat ya nasib kaum jomlo. Di mana-mana selalu dikaitkan dengan nasi kotak atau nasi bungkus. Dan sepertinya, nggak pernah sepi juga dari bully-an kaum yang sudah tak lagi berteman dengan bayangannya sendiri. 

"Apakah salah jika seorang jomlo ingin menikmati makanan hasil racikannya sendiri?" tanya saya dalam hati sembari membaca buku 'Sayang, Kapan Kita Nikah?'

Wallahu a'lam. 

Lereng Lareda, 12/2

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal